Rabu, April 8, 2020
Home > Aqidah > Makna “ Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’in“

Makna “ Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’in“

MAKNA “ IYYAAKA NA’BUDU  WA IYYAAKA NASTA’IN “

Oleh Al Ustadz Abul Mundzir Dzul Akmal Lc

Alloh تعالى :

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

”KepadaMu kami beribadah dan kepadaMu kami memohon pertolongan.” Al Fatihah: (5).

  Maksudnya,kami mengkhususkan kepada diriMu dalan beribadah ,berdo’a dan memohon pertolongan.

  1. Para `ulama dan pakar dibidang bahasa `arab mengatakan, didahulukannya maf`uulul bih ( objek ) إِيَّاكَ atas fi’il (kata kerja)نَعْبُدُ وََ نَسْتَعِينُ  dimaksudkan agar `ibadah dan memohon pertolongan  dikhususkan hanya kepada Allah Ta’ala semata, tidak kepada selainNya. Ayat al Quraan ini dibaca berulang ulang oleh setiap muslim, baik dalam sholat fardhu maupun sholat nawaafil.
  1. Ayat ini merupakan ikhtisar dan intisari surat al Fatihah, yang merupakan ikhtisar dan intisari al Quraan secara keseluruhan, mulai awal surat ini sampai akhir surat didalam al Quraan menganjurkan kita untuk ber`ibadah kepada Allah Ta’ala, isi al Quraan adalah `ibadah, perintah dan larangan. Perintah yang paling utama adalah mentauhidkanNya, artinya meng Esakan Allah Ta’ala dalam ber`ibadah, yang ia merupakan kandungan إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ.
  1. Maka `ibadah yang dimaksud oleh ayat ini adalah `ibadah dalam arti yang luas; sebagaimana telah dijelaskan oleh as Syaikh al Islam Ibnu Taimiyyah : “al `Ibaadah adalah penamaan yang sangat luas bagi setiap apapun yang dicintai oleh Allah Ta`aala dan diredhoiNya dari bentuk perkataan perkataan dan perbuatan perbuatan yang nampak dan yang tidak nampak.”[1] Misalnya : sholat, puasa, zakat, haji, nadzar, nusuk (menyemblih), tawakkal dan lain lainnya dari jenis `ibadat. Sebagaimana Allah Tabaaraka wa Ta`aala :

قل إن صلاتي و نسكي و محياى ومماتي لله رب العالمين

Artinya : “Katakanlah : Sesungguhnya sholatku, nusuk (sembelihan) saya, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Rabbil `Aalamiin.” Al An`aam (162).

As Syaikh `Abdur Rahman as Sa`diy berkata :

((قل إن صلاتي ونسكي)).

Maksudnya : “Kemudian Allah Tabaaraka wa Ta`aala mengkhususkan `ibadat `ibadat yang mulia; “sholatku dan sembelihanku”, yang demikian itu dikarenakan sangat mulianya dua  macam `ibadat ini dan keutamaannya, dan merupakan dalil atas kecintaan kepada Allah `Azza wa Jalla, dan meng-ikhlashkan per`ibadatan kepadaNya saja, pendekatan diri kepadaNya dengan hati dan lisan, anggota badan, menyembelih hewan yang merupakan bentuk pengorbanan sesuatu yang sangat dicintai oleh jiwa, dari bentuk harta benda terhadap yang lebih dicintai oleh jiwa tersebut, yaitu Allah Ta`aala.

Dan barang siapa yang meng-ikhlashkan sholatnya dan sembelihannya, melazimkan juga baginya untuk meng-ikhlashkan seluruh jenis `ibadat dalam bentuk `amalan dan perkataannya.

((ومحياى ومماتي)).

“Kehidupanku dan kematianku”, apa apa yang saya datangi Dia dalam kehidupan saya, dan apa apa yang telah diberikan oleh Allah kepada saya, dan apa apa yang sudah ditaqdirkanNya Jalla wa `Alaa atas saya pada kematian saya. Yang keseluruhan ini semata mata hanya untuk Allahu Rabbal `Alamiin.” [2] Demikian juga juga berdo’a, kesemua bentuk `ibadah tersebut haruslah kita kembalikan tata caranya seperti yang  telah dilakukan oleh Rasulullahi صلى الله عليه وسلم  , dan ditujukan hanya semata mata kepada Allah تعالى saja.

Sebagaimana Rasulullahi  صلى الله عليه و سلمbersabda:

“الدّعاء هوالعبادة.”

Artinya : “Do’a itu adalah` ibadah.”[3]

Sebagaimana sholat adalah `ibadah yang tidak boleh diperuntukan kepada Rasul Shollallahu `alaihi wa Sallam atau wali, demikian pula halnya dengan do’a , ia adalah `ibadah yang hanya boleh ditujukan kepada Allah تعالى  semata.

Allah تعالى   berfirman:

                قُلْ إِنَّمَا أَدْعُو رَبِّي وَلا أُشْرِكُ بِهِ أَحَدًا       ٢٠

Artinya : “Katakanlah ( Muhammad ), sesungguhnya aku hanya ber`ibadah kepada Robb ku dan aku tidak menyekutukan sesuatupun denganNYA.”  Al-Jin : (20 ).

As Syaikh `Abdur Rahman as Sa`diy berkata dalam menafsirkan ayat ini : “Katakan kepada mereka wahai Rasul Shollallahu `alaihi wa Sallam, kamu jelaskan kepada mereka haqiqat da`wah kamu kepadanya :

((إنما أدعو ربي ولا أشرك به أحدا)).

Maksudnya : “Hanyasanya saya mentauhidkanNya/ber`ibadah kepadaNya, Dialah satu satunya yang paling berhaq untuk di`ibadati, tidak ada sekutu bagiNya, dan saya akan meninggalkan apapun selain dari Dia, dari bentuk tandingan dan berhala, dan seluruh apapun yang dijadikan oleh kaum musyrikiin sebagai ma`buud  (sesembahan) mereka.”[4]

  1. Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda :

“دعوة ذي النون إذ دعا بها وهو في بطن الحوت: لاإله إلاّ أنت سبحانك إّنِي كنت من الظالمين.” لم يدع بها رجل مسلم في شيْء قط إلاّ اسجاب الله له.”

Artinya : ”Do’a yang dibaca oleh Nabi Dzin Nun (Nabi Yuunus) ketika berada didalam perut ikan adalah, tidak ada Ilaaha (ma`buuda)-yang berhak di` ibadahi- selain Engkau, Maha Suci  Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang orang yang zholim.” Tidaklah seorang muslim berdo’a dengannya untuk  meminta sesuatu apapun, kecuali Allah  I akan mengambulkan baginya.”[5]

 memohon pertolongan hanya kepada Allah تعالى

Nabi  صلى الله عليه و سلم bersabda :

إذاسألت فاسأل الله وإذااستعنت فاستعن با الله.

Artinya : “Jika kamu meminta  maka mintalah kepada Allah I. Jika engkau memohon pertolongan,  maka mohonlah  kepada Allah I.”[6]

Yang dimaksud dengan meminta disini adalah berdo`a, sebab ad do`a adalah `ibadat, Allah Tabaaraka wa Ta`aala berkata :

((واسألوا الله من فضله)). النساء (32).

Artinya : “…, dan mohonlah kepada Allah sebahagian dari karuniaNya.” An Nisaa` (32).

Allah `Azza wa Jalla telah mengelompokkan  orang yang tidak berdo`a kepadaNya sebagai orang orang  sombong, sebagaimana firmanNya:

((وقال ربكم ادعوني استجب لكم إن الذين يستكبرون عن عبادتي سيدخلون جهنم داخرين)). غافر (60).

Artinya : “Allah Subhaana wa Ta`aala berkata : “Berdo`alah kepadaKu, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang orang yang menyombongkan diri dari ber`ibadat (berdo`a) kepadaKu akan masuk neraka jahannam dalam keadaan hina dina.” Al Mu`min (60).

Maka diwajibkan bagi setiap muslim jangan sekali kali dia memohon/bertawajjuh kepada selain Allah `Azza wa Jalla dalam permasalahan yang sama sekali tidak akan mampu dia untuk mengabulkannya kecuali Allah Ta`aala, barang siapa terjerumus dengan perbuatan demikian sungguh sungguh dia telah terjatuh dalam kesyirikan yang Allah Jalla wa `Alaa telah melarang hamba hambaNya dari demikian. Allah Ta`aala berkata :

((ومن أضل ممن يدعو من دون الله من لا يستجيب له إلى يوم القيامة)). الأحقاف (5).

Artinya : “Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang ber`ibadat (berdo`a) selain kepada Allah yang tidak dapat sama sekali mengabulkan do`anya sampai hari kiamat…..)). Al Ahqaaf (5).

Berkata al Imam Ibnu Rajab rahimahullahu Ta`aala : “Dan ketahuilah bahwa meminta kepada Allah-`Azza wa Jalla- bukan kepada makhluqNya adalah sesuatu yang sudah ditentukan, karena permintaan (permohonan) padanya menampakan bentuk kehinaan bagi sipeminta, ketenangan dan hajat serta pengharapan yang sangat, dan padanya terdapat pengakuan dengan sangat mampunya yang diminta (Allah Subhaana wa Ta`aala) untuk menghilangkan mudharat dan memberikan apa yang diminta kepadaNya, kemudian mendatangkan segala bentuk mamfa`at dan menolak segala bentuk mudharat, dan tidak pantas merendahkan diri dan pengharapan kecuali hanya semata mata kepada Allah saja karena yang dimikian itu merupakan haqiqat dari `ibadat.”[7][8]

Berkata al imam an Nawaawiy dan al Haitsamiy ketika memberikan penjelasan terhadap ma`na hadist ini secara ringkas : “Jika engkau memohon pertolongan atas ssesuatu urusan; baik urusan dunia maupun akhirat, maka mohonlah pertolongan kepada Allah  تعالى, apalagi dalam urusan urusan yang tidak seorang pun mampu atasnya selain Allah تعالى . Seperti menyembuhkan penyakit, memberi rizqi dan petunjuk, hal seperti ini merupakan perkara khusus hanya bagi Allah عز وجل saja.” Allah  تعالى berfirman :

Artinya : “Jika Allah I menimpakan suatu kemudhoratan kepadamu maka tidak ada yang dapat menghilangkan melainkan Dia sendiri.” Al-An’am : (17).

Barang siapa menginginkan hujjah (argumentasi/dalil) maka cukup baginya al Quraan, dan juga as Sunnah diatas pemahaman “as Salaf.” Jangan seperti orang orang ingkarus Sunnah;-  mereka mengingkari Sunnah (hadist hadist) Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam sebagai sumber hukum yang di dunia mereka mereka ini dikenal sebagai “Al Quraaniyuun.”

Barang siapa menginginkan penolong cukuplah baginya Allah Ta’ala . Barang siapa menginginkan  penasehat cukup baginya kematian sebagai penasehatnya, barang siapa merasa belum mencukupinya yang demikian maka cukuplah neraka baginya, na`uudzubillahi minannaar.

Allah تعالى berfirman :

Artinya : “Bukankah Allah I cukup untuk melindungi hamba hambaNYA.” Az-Zumar: (36).

As Syaikh `Abdul Qodir Jailani-beliau adalah seorang imam ahlis Sunnah wal Jamaa`ah, akan tetapi banyak tareqat tareqat “shufiyah” mengklaim bahwa dia adalah imam tareqat `Abdul Qaadir al Jailaaniy (tareqot Qaadiriyyah) “shufiyah.” Bahkan sebahagian dari mereka menjadikan beliau sebagai wasilah (perantara) ketika berdo’a kepada Allah Tabaaraka wa Ta`aala, dan sebagai penolong untuk menyampaikan hajat mereka kepadaNya. Alangkah dustanya seluruh ajaran  tarekat “shufiyah” tersebut, dan alangkah jauhnya mereka dari kebenaran

Beliau berkata didalam al Fathur Robbaaniy : “Mintalah kepada Allah تعالى , jangan meminta kepada selainNya, mohonlah pertolongan daripada Allah عز و جل dan janganlah memohon pertolongan kepada selainNya, celakalah kamu, dimana kamu letakan mukamu kelak (ketika menghadap Allah عز و جل diakhirat)?, jika kamu menentangNya didunia, berpaling dari padaNya, menghadap (meminta dan ber`ibadat) kepada mahluk serta menyekutukanNya, engkau keluhkan kebutuhan kebutuhan kalian kepada selainNya, engkau bertawakkal (mengantungkan diri) kepada makhluq makhluq tersebut.

Singkirkanlah perantara perantara antara dirimu dengan Allah سبحان و تعالى, karena ketergantungan kepada perantara perantara itu suatu kebodohan yang sangat nyata. Tidak ada kerajaan, kekuasaan, kekayaan dan kemulian kecuali milik AllAh تعالى. Jadilahlah dirimu orang yang selalu bersama Allah تعالى, jangan bersama makhluq, yang dimaksud bersama Allah تعالى adalah dengan  selalu berdo’a dan ber`ibadat kepadaNya saja tanpa melalui perantara.

Memohon pertolongan yang disyari`atkan Allah تعالى adalah dengan hanya meminta kepada Dia saja. Sebab Dia yang Maha Mampu melepaskan dari berbagai kesulitan yang engkau hadapi. Adapun memohon pertolongan yang termasuk syirik adalah dengan meminta kepada selain Allah تعالى, misalnya kepada para Nabi `Alaihimus Salaam dan wali wali yang dikeramatkan, yang telah meninggal atau mendatangi quburan para kiyai atau tuan guru, atau kepada orang yang masih hidup tetapi mereka tidak hadir, mereka itu tidak memiliki manfa`at atau mudhorat, tidak mendengar do’a, dan kalaupun mendengar tentu tak akan mampu mengabulkan permohonan kita. Demikianlah seperti dikisahkan dalam  al Quraan tentang mereka.

Adapun meminta pertolongan kepada orang hidup untuk melakukan sesuatu  yang mereka mampu padanya; seperti membangun masjid, mencarikan kebutuhan yang dibutuhkan atau lain sebagainya, maka hal itu dibolehkan berdasarkan  firman Alloh تعالى:

Artinya : “Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa.“ Al-Maaidah : (2)

Dan sabda Rosululloh صلى الله عليه و سلم :

“و الله في عون العبد ماكان العبد في عون أخيه.”

Artinya : “Allah I akan memberikan pertolongan kepada hamba, selama hamba itu memberikan pertolongan kepada saudaranya.”[9]

Diantara contoh meminta pertolongan kepada orang hidup yang dibolehkan adalah seperti dalam firman Alloh تعالى

Artinya : “Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang dari musuhnya.”  Al-Qoshash : (15)

Juga Alloh تعالى berkata tentang Dzulqornain :

فَأَعِينُونِى بِقُوَّةٍ

Artinya : “Maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat)…” Al Kahfi: (95).

 

Berkatan as Syaikh `Abdurrahman as Sa`diy rahimahullahu Ta`aala ketika menafsirkan ayat yang mulia ini : “…, dan sesungguhnya saya meminta kalian untuk menolong saya dengan kekuatan dari kalian dan dengan tangan tangan kalian.”[10]

 

Sumber bacaan  “Minhajul firqatun Naajiyah”, karya as Syaikh Muhammad bin Jamiil Zainu. (hal. 25-27).

[1] Lihat kitab : “al `Ubuudiyyah”, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah hal.23, tahqiiq as Syaikh `Ali Hasan al Halabiy al Atsariy.

[2] Lihat : “Taisiirul Kariimir Rahman fii Tafsiiri Kalaamil Mannaan”, hal 245, karya as Syaikh `Abdur Rahmaan as Sa`diy.

[3] Hadist diriwayatkan oleh : at Tirmidziy (5/194 no.2969), Ibnu Maajah (2/1258 no.3828), Ahmad (4/267,271,276) dari jalan an Nu`maan ibnu Basyiir radhiallahu `anhu.

[4] Lihat : “Taisiirul Kariimir Rahmaan fii Tafsiiri Kalaamil Mannaan,” hal.825, karya as Syaikh `Abdur Rahmaan as Sa`diy.

[5] Hadist ini dikeluarkan dan dishohihkan oleh : al Haakim di “al Mustdrak” (3/637-638 no.4121), dan disepakati oleh al Imam ad  Dzahabiy. Berkata al Haakim : “Ini hadist shohihul Isnaad dan tidak dikeluarkan oleh al Bukhaariy dan Muslim.

[6] Hadist ini dikeluarkan oleh : al Imam at Tirmidziy (4/575-576 no.2516). Berkata at Tirmidziy : “Hadist ini hasan shohih,” Ahmad di “al Musnad” (1/293), al Haakim di “al Mustadrak” (3/623 no.6303), al Albaaniy di “shohiihul Jaamius Shoghiir” (2/1317-1318 no.7957, keseluruhannya dari jalan Ibnu `Abbaas radhiallahu `anhuma.

 

[7] Lihat “Iiqaazhul Himamil Muntaqaa min Jaami`il `uluumi wal Hikam”, hal.292, karya al Imam Ibnu Rajab al Hanbaliy.

[8] Lihat “Qawaa`id wa Fawaaid minal Arbi`iinan Nawawiyyah”, hal.172, karya Naazhim Muhammad Sulthon.

[9] Hadist ini dikeluarkan oleh al Imam Muslim (4/2074 no.2699), Abu Daawud (5/234-235 no.4946), at Tirmidziy (4/287-288 no.1930. 5/179 no.2945), Ibnu Maajah (1/82 no.225), Ahmad di “al Musnad” (2/252,296) keseluruhannya dari jalan Abu Hurairah radhiallahu `anhu.

[10] Lihat : “Taisiirul Kariimirrahmaan fi Tafsiir Kalaamil Mannaan”, as Syaikh `Abdurrahman as Sa`diy, cetakan Muassasah ar Risaalah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *