Selasa, Desember 18, 2018
Home > Adab Akhlak > Wasiat yang berharga untuk wanita

Wasiat yang berharga untuk wanita

الحمد لله والصلاة السلام على رسول الله صلى الله عليه وسلم،وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله وبعد:

Allahu Ta`ala berfirman :

إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

Artinya: “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin[1218], laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”. (Al-Ahzaab : 35)

 

[1218] Yang dimaksud dengan muslim di sini ialah orang-orang yang mengikuti perintah dan larangan pada lahirnya, sedang yang dimaksud dengan orang-orang mukmin di sini ialah orang yang membenarkan apa yang harus dibenarkan dengan hatinya.

Diriwayatkan oleh al Imam at Tirmidziy dalam “sunannya” satu hadist dari jalan Ummu `Ummaarah al Anshooriyah radhiallahu `anhu bahwa dia telah mendatangi Nabi Shollallahu `alaihi wa Salam lalu berkata: “Tidaklah saya melihat setiap sesuatu kecuali untuk kaum lelaki, dan saya tidak melihat kaum wanita disebutkan mereka dengan sesuatu”, maka Allahu Ta`ala menurunkan ayat diatas ini.

 

Dan ini sebahagian wasiat yang akan saya wasiatkan terhadap saudari-saudari muslimah dan saya meminta kepada Allah Ta`ala semoga memberikan manfaat dengannya, Allahu Ta`ala berkata :

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ أُولَٰئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Artinya: “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah, sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (At-Taubah:71)

 

Wasiat Pertama: Berpegang teguh dengan at-Tauhid dan menjauhi syirik. Allahu Ta`ala berfirman :

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ۖ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انْفِصَامَ لَهَا ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Artinya: “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu, barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut[162] dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul (ikatan) tali yang amat kuat yang tidak akan putus, dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui”. (Al-Baqarah : 256)

 

[162] Thaghut ialah syaitan dan apa saja yang di-ibadati selain dari Allah Ta’ala.

Allah Ta`ala berkata :

وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ ۗ وَإِلَى اللَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ

Artinya: “Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh, dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan”. (Luqman : 22)

Sesungguhnya syaikhul islam Muhammad bin `Abdul Wahhab rahimahullahu Ta`ala telah menyebutkan bahwa ushul (dasar/pokok) Din Islam dan tiangnya ada dua perkara yang besar, keduanya ialah :

Pertama: Perintah untuk meng-ibadati Allah Ta`ala saja dan tidak ada sekutu bagiNya, bermotivasi terhadapnya, loyalitas padanya dan mengkafirkan orang yang meninggalkannya.  Allah Jalla wa `Alaa berkata:

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ ۚ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

Artinya: Katakanlah: “Hai ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kalian,  tidak kita beribadat kecuali kepada Allah, dan jangan kita mempersekutukanNya sedikitpun, dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai `ibadat (ma`buudaat) selain Allah”. Jika mereka berpaling, maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. (Al-`Imraan : 64)

Allah Subhaana wa Ta`ala memerintahkan NabiNya Shollallahu `alaihi wa Sallam untuk mendakwahi ahlul kitab kepada kalimat Laa Ilaha Illallahu (kalimatut-Tauhiid) yang beliau serukan juga kepada bangsa Arab dan selainnya, dan al-Kalimatus Sawaa` pada ayat ini ialah kalimatut tauhiid, artinya : “Tidak ada yang berhak untuk di-ibadati kecuali Allah Ta`ala”. Tidak sah satu doa dan meminta pertolongan, sembelihan, nadzar dan selainnya dari seluruh bentuk peribadatan kecuali semata-mata milik Allah `Azza wa Jalla, dan inilah dakwah seluruh para Rasul `Alaihimus Sholaatu was Salaam.

Kedua : Peringatan dari syirik dalam beribadah kepada Allah Ta`ala dan keras dalam perkarademikian, serta memusuhi kesyirikan tersebut, lalu mengkafirkan orang yang melakukannya. Tidak akan sempurna kedudukan tauhid seseorang kecuali dengan dua ini, inilah Din (agama) para Rasul `Alaihimus Sholaatu was Salaam, mereka mengingatkan kaumnya dari kesyirikan, sebagaimana dikatakan Allah Ta`ala :

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ ۚ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ

Artinya: “Dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Beribadatlah kalian kepada Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kalian di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)”. (An-Nahl : 36)

Dan kesyirikan tersebut menghapus seluruh amalan, baik besar ataupun kecil amalan tersebut, Allah Jalla wa `Alaa tidak akan menerima dari pelakunya taubat (setelah dia meninggal) dan tidak diterima juga dari pelakunya keadilan, demikian juga amalan wajib atau naafilah (sunnah) -nya. Allah Ta`ala berfirman :

وَقَدِمْنَا إِلَىٰ مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا

Artinya: “Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan[1062], lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan”. (Al-Furqaan:23).[1]

[1062] Yang dimaksud dengan amal mereka disini ialah amal-amal mereka yang baik-baik yang mereka kerjakan di dunia amal-amal itu tak dibalas oleh Allah karena mereka tidak beriman.

Diantara bentuk perbuatan yang merobek hati dan badan ialah  bahaya yang sangat besar menimpa umat ini dalam perkara yang paling afdhol (baik) dan mulia yang dimiliki mereka, yaitu apa-apa yang telah dihembuskan oleh kaum kafir musuh-musuh Islam melalui jaringan internet dan selainnya dari wasilah-wasilah (perantara) sebagai alat untuk menghancurkan mereka, berusaha menanamkan keraguan terhadap kaum muslimin atas Din mereka,  menyeru mereka dengan makar dan tipu muslihat dalam rangkat mencabut Din tersebut dari hati mereka, maka berhati-hatilah, dan inilah bentuk bahaya pertama.

Dan bahaya kedua yaitu diantara perkara yang perlu diperhatikan ialah banyaknya tersebar praktek perdukunan dan sihir, serta banyak berobat dan sejenis dengan hal tersebut. Maka tidak boleh bagi seorang muslim untuk mendatangi para dukun tersebut dengan dakwaan bahwa mereka mengetahui perkara-perkara gaib atau mengetahui penyakit-penyakit mereka, sebagaimana juga tidak dibolehkannya untuk membenarkan mereka terhadap apapun yang telah mereka kabarkan tentang perkara gaib. Hal ini karena pembicaraan para dukun tersebut merupakan hasil curian dari jin, atau mereka meminta jin untuk hadir menolong mereka atas apa yang mereka inginkan. Maka hukuman bagi mereka ialah kekufuran dan kesesatan apabila mereka mendakwakan ilmu gaib tersebut. Al-Imam Muslim telah meriwayatkan satu hadist dari jalan Shofiyyah dari sebahagian istri Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam bahwa Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam berkata :

“من أتى عرافا، فسأله عن شيء لم تقبل له صلاة أربعين ليلة”.

Artinya : “Barang siapa mendatangi seorang dukun (tukang ramal), lantas dia menanyakan kepadanya tentang sesuatu, tidak akan diterima darinya sholat selama empat puluh hari”.[2]

Dan ada lagi bahaya yang sangat banyak yang tidak memungkinkan kita untuk berlepas diri dari bahaya tersebut kecuali dengan apa yang telah disebutkan sebelumnya, yakni dengan mempraktekkan at-Tauhiid, berpegang teguh dengannya, dan mengetahui tentang kesyirikan dan kekufuran serta berhati-hati darinya, serta berlepas diri dari pengikutnya.

Wasiat kedua : Menjaga/memelihara sholat ini serta rukun dan syaratnya dan kewajibannya. Allah Jalla wa `Alaa berkata :

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

Artinya: “Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa[152]. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’”. (Al-Baqarah : 238)

[152] Shalat wusthaa ialah shalat yang di tengah-tengah dan yang paling utama. ada yang berpendapat, bahwa yang dimaksud dengan shalat wusthaa ialah shalat Ashar. menurut kebanyakan ahli hadits, ayat ini menekankan agar semua shalat itu dikerjakan dengan sebaik-baiknya.

Al-Imam Ibnu Katsiir rahimahullahu Ta`ala berkata: “Bahwa yang dikatakan  sesungguhnya as-sholaatul Wustho ialah sholat Ashar”. Berkata al-Imam at-Tirmidziy dan al-Baghawiy rahimahumallahu Ta`ala : “Ini merupakan pendapat jumhur ulama dari kalangan para sahabat, dan selain mereka”. Kemudian Al-Haafizh Abu `Umar ibnu `Abdil Barr berkata bahwa ini merupakan pendapat kebanyakan ahlil atsar. Dan berkata Abu Muhammad ibnu `Athiyah dalam tafsirnya : “Ini merupakan pandangan kebanyakan ulama”. Dan juga berkata Al-Haafizh Abu Muhammad `Abdul Mukmin bin Khlaf al Dimyaathiy tentang hal ini dalam kitabnya yang dinamakan “Kasyful Mughotthoo fii Tabyiinis Sholaatil Wustho”, telah menashkan beliau dalam kitab tersebut – sholat Wusth – diriwayatkan dari `Umar, `Ali, Ibnu Mas`uud, Abu Ayuub, `Abdullah bin `Amrin, Samurah bin Jundub, Abi Hurairah, Abi Sa`iid, Hafshoh, Ummu Habiibah, Ummu Salamah, Ibnu `Umar, Ibnu `Abbas, `Aaisyah menurut shohih dari mereka seluruhnya, ini juga dikatakan oleh `Ubeidah, Ibrahim an Nakha`iiy, Zirr bin Hubeisy , Sa`iid bin Jubeir, Ibnu Siiriin, al Hasan al Basyriy, Qotaadah, adh Dhohaak, al Kalbiy, Muqaatil, `Ubeid bin Abi Maryam dan selain mereka, dan ini juga madzhab Ahmad bin Hanbal, berkata al Qodhiy al Maawardiy : dan asy Syaafi`iiy. Berkata Ibnul mundzir : “Ini yang shohih dari Abi Haniifah, Abi Yusuf, Muhammad, dan ini yang dipilih oleh Ibnu Habiib al Maalikiy rahimahumullahu Ta`ala”.[3]

Sholat ini merupakan yang pertama kali ditanyakan pada seorang hamba di hari kiamat. Telah meriwayatkan al Imam at Thobaraaniy dalam “al-Mu`jamul Aushoth”, hadist dari jalan `Abdullah bin Qurth bahwa Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam berkata :

“أول ما يحاسب به العبد يوم القيامة الصلاة، فإن صلحت صلح سائر عمله، وإن فسد فسد سائر عمله”.

Artinya : “Pertama yang dihisab seorang hamba di hari kiamat ialah sholat, kalau sholat itu baik maka baiklah seluruh amalannya, dan kalau seandainya sholat itu rusak maka rusaklah seluruh amalannya”.[4]

Adapun diantara akhir-akhir wasiat Nabi Shollalahu `alaihi wa Sallam tatkala beliau sedang sakaratul maut beliau berkata:

“الصلاة، الصلاة، وما ملكت أيمانكم”.

Artinya : “Sholat, sholat dan budak-budak yang kalian miliki”.[5]

Al-Imam Abu Daawud telah meriwayatkan dalam sunannya satu hadist jalan `Ubaadah bin as Shoomit berkata beliau: saya telah mendengar Rasulullah Shollalahu `alaihi wa Sallam berkata:

“خمس صلوات كتبهن الله على العباد، فمن جاء بهن ولم يضيع منهن شيئا استخفافا بحقهن، كان له عند الله عهد أن يدخله الجنة، ومن لم يأت بهن فليس له عند الله عهد، إن شاء عذبه، وإن شاء أدخله الجنة”.

Artinya : “Lima kali sholat telah diwajibkan oleh Allah Ta`ala atas hamba-hamba, maka barang siapa yang mengerjakannya dengan tidak menyia-nyiakan sedikitpun darinya serta tidak meringan-ringankan hak sholat tersebut, adalah baginya di sisi Allah Ta`ala janji untuk memasukkan dia ke dalam Jannah, dan barang siapa yang tidak mengerjakannya maka tidak ada baginya janji di sisi Allah Subhaana wa Ta`ala, kalau Allah menginginkan diadzab olehNya, dan kalau Dia menginginkan Dia akan masukan dia ke jannah”.[6]

Ketahuilah wahai saudari Muslimah bahwa tidak akan sempurna ke-islaman seseorang kecuali dia menunaikan rukun islam yang lima. Diriwayatkan al Imam al Bukhariy dan Muslim rahimahumallahu Jalla wa `Alaa satu hadist dari jalan `Abdullah bin `Umar bahwa Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam berkata :

“بني الإسلام على خمس : شهادة أن لا إله إلا الله، وأن محمدا رسول الله، وإقامة الصلاة، وإيتاء الزكاة، وصوم رمضان، وحج البيت”.

Artinya : “Dibangun Islam di atas lima tiang : Syahaadatu Laa Ilaaha Illallahu dan Muhammad Rasuulullahi, menegakkan sholat, menunaikan zakat, puasa di bulan ramadhan, dan haji ke baitullahil haram”.[7]

Wasiat Ketiga : Mendalami Agama. Allah Ta`ala berfirman :

أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ ۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

Artinya: (apakah kamu wahai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Rabbnya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”. (Az-Zumar : 9)

Al-Imam al-Bukhaariy dan Muslim telah meriwayatkan dalam shohih mereka satu hadist dari jalan Mu`aawiyah radhiallahu `anhu bahwa Nabi Shollallahu `alaih wa Sallam berkata :

“من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين”.

Artinya : “Barang siapa yang Allah Jalla wa `Alaa menginginkan kebajikan atasnya maka Allah Ta`ala akan mem-faqihkan (memahamkan) dia dalam agama ini”.

Oleh karena itu sepantasnya bagi seorang wanita muslimah bersemangat dalam mempelajari perkara Agamanya, seperti menghadiri pelajaran-pelajaran dan ceramah-ceramah, mendengarkan kaset-kaset yang berfaedah, membaca kitab-kitab yang bermanfaat, dan yang paling penting diataranya ialah menghafal Kitabullahi, karena al Quraan merupakan puncak dari ilmu ini seluruhnya, sumber hukum, taman-taman orang-orang sholih, benteng dari kesesatan bagi orang yang mendalaminya dan mengamalkannya. Berkata Ummul Mu`miniin `Aisyah radhiallahu `anha : “Sebaik-baik wanita ialah wanita kaum Anshor, yang tidak menahan mereka rasa malu untuk bertanya tentang Din mereka”.

Wasiat Keempat : Taqwa kepada Allah Jalla DzikruHu dan selalu merasa dalam pengawasanNya, baik ketika nampak dan juga ketika tidak nampak. Sesungguhnya takwa merupakan wasiat Allah Tabaaraka wa Ta`ala kepada orang terdahulu dan sekarang. Allah Ta`ala berkata :

وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ ۚ وَإِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ غَنِيًّا حَمِيدًا

Artinya: “Dan kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan yang di bumi, dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu, bertakwalah kepada Allah, tetapi jika kamu kafir, maka (ketahuilah), sesungguhnya apa yang di langit dan apa yang di bumi hanyalah kepunyaan Allah[360] dan Allah Maha Kaya dan Maha Terpuji”. (An-Nisaa : 131)[8]

[360] Maksudnya: kekafiran kamu itu tidak akan mendatangkan kemudharatan sedikitpun kepada Allah, karena Allah tidak berkehendak kepadamu.

Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam sering sekali menasehati dan berwasiat kepada para shohabatnya dengan bertakwa kepada Allah Jalla wa `Alaa, dan dalam satu hadist dari jalan `Irbadh ibni as Saariyah radhiallahu `anhu bahwa Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam berkata :

“أوصيكم بتقوى الله والسمع والطاعة”.

Artinya : “Saya wasiatkan kalian bertakwa kepada Allah, mendengarkan serta ta`at”.[9]

Dan jauhilah seluruh maksiat, besar atau kecil, sungguh Allah Jalla wa ta`ala telah menjanjikan kepada siapapun yang menjauhi dosa-dosa besar, Dia akan menghapuskan dosa-dosa kecilnya, dan akan memasukkan dia ke dalam jannahNya, Allah Ta`ala berkata :

إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا

Artinya: “Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga)”. (An-Nisaa : 31)

 

Wasiat Kelima: Menyeru kepada kebajikan dan melarang dari kemungkaran. Allah Ta`ala berfirman:

يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ ۚ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا

Artinya: “Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk[1213] dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya[1214] dan ucapkanlah perkataan yang baik”. (Al-Ahzaab : 32)

[1213] Yang dimaksud dengan tunduk di sini ialah berbicara dengan sikap yang menimbulkan keberanian orang bertindak yang tidak baik terhadap mereka.

[1214] Yang dimaksud dengan dalam hati mereka ada penyakit ialah orang yang mempunyai niat berbuat serong dengan wanita, seperti dengan melakukan zina.

Ini merupakan khithob (pembicaraan) yang ditujukan kepada istri-isteri Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam sebagai bentuk pemeliharaan bagi mereka, dan juga ditujukan kepada seluruh isteri-isteri kaum mukminin. Allah Ta`ala berkata :

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ أُولَٰئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Artinya: “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah, Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (At-Taubah:71)

Maka atas wanita muslimah hendaklah dia bersemangat untuk menegakkan syi`ar yang sangat agung ini, secara khusus di rumah dia sendiri terhadap anak-anak dan kaum kerabatnya. Apabila dia melihat saudara-saudaranya yang muslimah lalai dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah `Azza wa Jalla, baik dalam melaksanakan sholat atau puasa mereka, atau hak-hak suami mereka, atau lainnya, maka diwajibkan atasnya untuk menasehati mereka dengan kata-kata yang baik, nasehat yang hasanah, sebagai bentuk ber-qudwah (mencontoh) terhadap para shohaabiyyah radhiallahu `anhunna.

Wasiat Keenam : Bersifat dengan sifat pemalu. Allah Ta`ala berkata tentang Musa `Alaihis Sholaatu was Salaam ketika beliau mengambilkan air untuk dua orang wanita:

فَجَاءَتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ قَالَتْ إِنَّ أَبِي يَدْعُوكَ لِيَجْزِيَكَ أَجْرَ مَا سَقَيْتَ لَنَا ۚ فَلَمَّا جَاءَهُ وَقَصَّ عَلَيْهِ الْقَصَصَ قَالَ لَا تَخَفْ ۖ نَجَوْتَ مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

Artinya: Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan, ia berkata: “Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami”. Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya, dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya), bapaknya berkata: “Janganlah kamu takut. kamu telah selamat dari orang-orang yang zalim itu”. (Al-Qoshos : 25)

Perlu diperhatikan disini bahwa sifat pemalu sudah sangat lemah di sisi kebanyakan wanita di hari ini, diantara gambaran demikian adalah perginya seorang wanita dengan seorang sopir tanpa mahram, atau memakai niqab (penutup wajah) hanya dengan meletakkannya di pertengahan hidungnya, sekedar menutup bahagian bawah hidung sedangkan atasnya dengan kedua mata dan keningnya terbuka, atau memakai celana ketat di depan kaum wanita lainnya, atau meletakkan abaya (pakaian panjang) sebatas bahu saja, atau memakai pakaian sangat sempit dan terbuka, atau bentuk telanjang. Dan al Imam Muslim telah meriwayatkan satu hadist dari jalan Abu Hurairah radhiallahu, bahwa Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam berkata :

“صنفان من أهل النار … وذكر أهدهما : نساء كاسيات عاريات، مميلات مائلات، وؤوسهن كأسنمة البخت المائلة، لا يدخلن الجنة، ولا يجدن ريحها، وإن ريحها ليوجد من مسيرة كذا وكذا”.

Artinya : “Dua golongan diantara penduduk neraka… dan Rasulullahi Shollallahu `alaihi wa Sallam menyebutkan salah satunya: wanita berpakaian tetapi hakikatnya telanjang, yang berdandan berjalan sambil berlenggok-lenggok, kepala-kepala mereka seperti punuk onta yang bergoyang-goyang, mereka tidak akan masuk sorga, dan tidak akan mencium baunya, padahal baunya dapat dirasakan dari jarak yang sangat jauh begini”.[10]

Maka hendaklah seorang wanita muslimah betul-betul memahami apa yang diinginkan oleh musuh-musuh Allah Jalla wa `Alaa, mereka (musuh-musuh) tersebut menginginkan untuk menghancurkan kaum wanita muslimah, sehingga menjadi barang dagangan sangat murah di tangan tangan mereka, dan ingin menanggalkan keimanan dan agamanya dari wanita muslimah tersebut, serta mengeluarkan kaum wanita muslimah dari fitrah mereka yang Allah Ta`ala telah menciptakan mereka atasnya. Maka hendaklah wanita muslimah tersebut ekstra hati-hati dari yang demikian.

Wasiat Ketujuh: Memperbanyak sedekah.  Allah Ta`ala mengatakan:

* لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

Artinya: “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar. (An-Nisaa : 114)

Allah Ta`ala berfirman :

قُلْ إِنَّ رَبِّي يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ ۚ وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ ۖ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

Artinya: Katakanlah: “Sesungguhnya Rabbku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)”. Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah pemberi rezki yang sebaik-baiknya. (Sabaa : 39)

Dalam shohih Muslim, satu hadist dari jalan Jaabir bin `Abdillah bahwa Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam menasehati kaum wanita, beliau berkata :

“أكثرن من الصدقة، فإن أكثركن حطت جهنم”.

Artinya : “Perbanyaklah oleh kalian bersedekah wahai kaum wanita, sesungguhnya kebanyakan kalian adalah kayu bakar neraka jahannam”.[11]

Berkata al Imam Ibnul Qaiyim rahimahullahu Ta`ala : “Memberi dan bersedekah adalah sesuatu yang sangat dicintai oleh Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam, dan merupakan kegembiraan dan kesenangan bagi beliau Shollalahu `alaihi wa Sallam dengan apa-apa yang beliau berikan lebih besar dari kegembiraan seseorang yang mengambil akan apa yang dia ambil. Beliau adalah orang yang sangat dermawan dengan kebajikan, tangan kanan beliau seperti angin yang berhembus, apabila datang kepada beliau seseorang yang sangat berhajat maka beliau lebih mengutamakan orang tersebut dari diri beliau Shollallahu `alaihi wa Sallam, kadang-kadang berbentuk makanan dan kadang-kadang pakaian beliau. Beliau Shollallahu `alaihi wa Sallam memerintahkan untuk memperbanyak bersedekah, memotivasinya, dan mengajak kepada sedekah tersebut dengan harta beliau sendiri dan perkataannya. Oleh karena itu Rasulullahi Shollallahu `alaihi wa Sallam adalah makhluk yang paling lapang dadanya, kehidupannya paling baik dan paling nikmat hatinya. Maka sesungguhnya, sedekah memiliki pengaruh sangat menakjubkan untuk melapangkan dada”.[12]

Diantara jenis sedekah yang paling afdhol yang akan terus-menerus seorang hamba akan menikmatinya walaupun dia sudah meninggal adalah sedekah jaariyah (yang mengalir terus-menerus ganjarannya), seperti membangun/menggali sumur, membangun masjid-masjid, mencetak buku-buku, wakaf-wakaf kebajikan terhadap para fuqaraa dan miskin, dan sejenisnya.

Wasiat Kedelapan: Menjauhi teman teman yang jelek. Sesungguhnya Allah Ta`ala telah mengkhabarkan bahwa manusia akan menyesal pada hari kiamat akibat bersahabatnya dia dengan teman yang rusak, dimana dia telah menyesatkannya dan menjauhkannya dari jalan kebenaran. Berkata Allah Ta`ala :

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا

  يَا وَيْلَتَىٰ لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيل

لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي ۗ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا

Artinya: Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zhalim menggigit dua tangannya[1064], seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku, kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan[1065] itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku, dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia”. Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, Sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan”. (Al-Furqaan 27-30)

 

[1064] Menggigit tangan (jari) maksudnya menyesali perbuatannya.

[1065] Yang dimaksud dengan si Fulan, ialah syaitan atau orang yang telah menyesatkannya di dunia.

 

Allah Ta`ala berfirman :

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

Artinya: “Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa”. (Az-Zukhruf : 67)

 

Al-Imam al-Bukhaariy dan Muslim telah meriwayatkan dalam shohih mereka berdua bahwa Nabi Shollallahu berkata :

“مثل الجليس الصالح والسوء كحامل المسك ونافخ الكبير، فحامل المسك إما أن يحذيك، وإما أن تبتاع منه، وإما أن تجد منه ريحا طيبة، ونافخ الكير إما أن يحرق ثيابك وإما أن تجد منه ريحا خبيثة”.

 

Artinya : “Permisalan teman yang sholih dan teman yang jelek seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Maka penjual minyak wangi mungkin dia menghadiahkan untukmu atau kamu membelinya darinya, atau kamu akan mendapatkan bau yang wangi darinya, sedangkan pandai besi mungkin akan membakar bajumu atau kamu akan mendapatkan bau yang sangat busuk darinya”.[13]

 

Berapa banyak para pemudi yang gagal dalam belajarnya dikarenakan teman-teman yang rusak, dan berapa banyak juga dari kalangan pemudi telah dihancurkan kehormatannya, dirusak kemuliaannya disebabkan oleh teman-teman yang rusak, berapa banyak juga para pemudi terjerumus dalam dunia narkoba, minuman-minuman memabukkan serta apa apa yang diakibatkan oleh yang demikian dari bentuk kerusakan yang sangat banyak sekali.

 

Oleh karena itu saya mewasiatkan kepada para saudari saya yang muslimah hendaklah bersemangat untuk bersahabat dengan sahabat yang sholihah.

والحمد لله رب العالمين، وصلى الله سلم علي نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

 

Rimbo Panjang, kompleks Ma`had Ta`zhiim as Sunnah as Salafiyyah, malam Rabu 9 Jumaadil Uulaa 1432H/12 April 2011M

 

Diterjemahkan oleh: Al-Ustadz Abul Mundzir Dzul Akmal Lc ar Riyawwiy al Madaniy as Salafiy dari Kitab : “Ad Durrarul Muntaqootu minal Kalimaatil Mulqooti, Duruusun Yaumiyah”, halaman 663-670, oleh as Syaikh Amiin bin `Abdullah as Syaqaawiy.

[1] Lihat : Majmuu`u at Tauhiid (45-48).

[2] Muslim (2230),  Ahmad (2/429), al Baihaqiy  di “as Sunan” (8/135), al Haakim di “al Mustadrak” (1/8) dan dishohihkan serta disepakati oleh adz Dzahabiy, dan berkata adz Dzahabiy di “al Kabaair (123) : isnaadnya shohih. Nuqilan dari kitab : “Fathul Majiid lisyarhi Kitaabut Tauhiid”, (2/489), oleh al Imam as Syaikh `Abdurrahman bin Hasan bin Muhammad bin `Abdul Wahhaab rahimahullahu Ta`ala.

[3] Ibnu Katsiir (2/395).

[4] Al Mu`jamul Aushoth (2/240) nomor 1859, dishohihkan oleh al Imam al Albaaniy rahimahullahu Jalla wa `Alaa  dalam “as Shohiihah”, nomor 1358.

[5] Sunan Ibnu Maajah (2/900) nomor 2697.

[6] Abu Daawud (1420).

[7] Al Bukhaariy (8), Muslim (16).

[8] Berkata penulis : shohih al Bukhaariy halaman 50.

[9] Sunan at Tirmidziy (2676). Berkata as Syaikh Saalim bin `iid al Hilaaliy hadaahullah Ta`ala : “Hadist shohih- dikeluarkan oleh al Imam Abu Daawud (4607), at Tirmidziy (2676), Ibnu Maajah (43,44), ad Daarimiy (1/228-229, nomor 96), Ahmad (4/126), al Haakim dalam “al Mustadrak” (1/95-96), “al Madkhal Ilas Shohiih” (1/1), al Baihaqiy dalam “as Sunan al Kubraa” (10/114), “al I`tiqaad” (halaman 229-230), “Manaaqibus Syaafi`ii” (1/10-11), Ibnu Hibaan (5), Ibnu Abi `Ashim dalam “Kitaabus Sunnah” (27,32,54,57), al Baghawiy dalam “Syarhus Sunnah” (102), al Ajurriy dalam “as Syarii`ah” (70-71), at Thohaawiya dalam “Musykilul Atsar” (1187), at Thobbaraaniy dalam “al Kabiir” (18/818), “Musnad as Syaamiyiin” (437,438), Ibnu `Abdil Barr dalam “Jaami`u Bayaanil `Ilmi wa Fadhlihi” (2/222), selain dari mereka dari jalan `Abdurrahman bin `Amrin as Sulamiy, dari `Irbadh radhiallahu `anhu.

 

Berkata as Syaikh Saalim : sanadnya shohih dan seluruh perawinya terpecaya dan dikenal selain `Abdurrahman bin `Amrin as Sulamiy; sungguh Ibnu Hajr telah mentsiqahkannya dalam “Muwaafaqatul Khabar al Khabar” (1/137), dan berkata adz Dzahabiy dalam “al Kaasyif” (2/158), : “shoduuqun”, dan Ibnu Hibban telah menyebutkannya dalam “At Tsiqaat” dan telah meriwayatkan darinya sekelompok dari rawi rawi yang tsiqaat (terpecaya), dan dishohihkan baginya at Tirmidziy, Ibnu Hibban dan al Haakim. Lihat : “Bashooiru Dzawis Syarf  bisyarhi Marwiyyaat Manhajis Salaf” (halaman 66-67 dstnya, oleh as Syaikh Saalim bin `Iid al Hilaaliy.

 

[10] Muslim (2128).

[11] Muslim (885).

[12] Zaadul Mi`aad (2/22-23).

[13] Al Bukhaariy (5534), Muslim (2628).