Selasa, Desember 18, 2018
Home > Adab Akhlak > Kebahagiaan Hakiki

Kebahagiaan Hakiki


Sesungguhnya setiap manusia di dalam kehidupan ini dia akan berusaha untuk mencapai kebahagian yang hakiki, dan ini merupakan tuntutan yang hakiki bagi seluruh manusia, mukmin dan kafir, baik atau fajir, kaya ataupun miskin. Keseluruhan mereka sudah pasti menginginkan kebahagiaan, namun berbeda diantara mereka dari sudut pandangannya tentang kebahagian tersebut, diantara mereka ada yang memandang bahwa kebahagiaan itu ialah mengumpulkan harta dan dirham, dan yang lainnya melihat dari sisi menghasilkan kedudukan-kedudukan yang tinggi, dan lainnya meninjau dari sisi menghasilkan ijazah-ijazah yang tinggi, dan diantara mereka ada yang melihat selain dari yang demikian.

Sebenarnya perkara-perkara ini merupakan satu bahagian dari kebahagiaan, bukan kebahagiaan seluruhnya. Kebahagiaan bersifat sewaktu-waktu yang akan sirna bersamaan dengan sirnanya kebendaan tersebut, pemilik harta dia akan kehilangan hartanya, seorang yang punya kedudukan dia akan dilengserkan dari kedudukannya, bahkan harta ini merupakan merupakan beban kehidupan kalau pemiliknya tidak menggunakan dalam ketaatan kepada Allah Jalla wa`Alaa bahkan menjadi bala` atasnya. Allah Jalla wa `Alaa berkata :

 فَلَا تُعْجِبْكَ أَمْوَالُهُمْ وَلَا أَوْلَادُهُمْ ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ بِهَا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَتَزْهَقَ أَنْفُسُهُمْ وَهُمْ كَافِرُونَ

Artinya: “Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir”. (At-Taubah :55)

Berkata seorang penyair:

“Saya melihat kebahagiaan itu bukan mengumpulkan harta

Akan tetapi ketakwaan itulah kebahagiaan yang hakiki

Bukan pula kebahagiaan dunia yang dia bahagiakan

Sesungguhnya kebahagiaan ialah yang menyelamatkan dia dari neraka”

Sebagaimana Allah Subhaana wa Ta`ala berfirman :

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Artinya: “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati, dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan”. (Ali-`Imraan :185)

Al Imam Ibnu Hibban rahimahullahu Ta`ala telah meriwayatkan dalam shohihnya, satu hadist dari jalan Sa`ad radhiallahu `anhu bahwa Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam berkata :

“أربع من السعادة : المرأة الصالحة، والسكن الواسع، والجار الصالح، والمركب الهنيء”.

Artinya : “Empat dari bentuk kebahagiaan yaitu: wanita yang sholihah, tempat tinggal yang luas, tetangga yang sholih dan kendaraan yang nyaman”.[1]

Dan al Imam Muslim juga telah meriwayatkan dalam shohihnya hadist dari jalan `Abdullah bin `Amrin bahwa Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam telah berkata :

“الدنيا متاع وخير متاع الدنيا المرأة الصالحة”.

Artinya : “Dunia merupakan perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia ialah wanita sholihah”.[2]

Dan disifatkan wanita sholihah ini dalam satu hadist lain yang diriwayatkan oleh al Imam Ahmad dalam “Musnadnya”, hadist dari jalan Abi Hurairah radhiallahu berkata : “Dikatakan kepada Rasulullah Shollallahu `alaihi  wassallam: “Wanita mana yang paling terbaik?”, maka beliau menjawab:

التي تسره إذا نظر، وتطيعه إذا أمر، ولا تخالفه في نفسها وماله بما يكره”.

Artinya : “Wanita sholihah itu ialah menyenangkan suaminya bila dilihat, mentaatinya bila diperintah, dan tidak menyelisihi suaminya pada dirinya dan harta suaminya dengan apa yang dia benci”.[3]

Dan as Syaikh as Si`diy rahimahullahu Ta`ala telah menyebutkan bahwa diantara sebab-sebab kebahagiaan ialah:

Pertama : Beriman dengan Allah Ta`ala dan mengamalkan amalan sholih.

Berkata Allah Jalla wa `Alaa :

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Artinya: “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik[839] dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”. (An-Nahl : 97)

 

[839] Ditekankan dalam ayat ini bahwa laki-laki dan perempuan dalam Islam mendapat pahala yang sama dan bahwa amal saleh harus disertai dengan iman.

 

Berkata Ibnu`Abbas radhiallahu `anhu : “Kehidupan yang baik itu ialah kehidupan yang bahagia”[4], dan kebahagiaan yang seperti berbentuk perasaan yang tenang diletakkan oleh Allah Jalla wa `Alaa dalam hati-hati hambaNya yang sholihin, walaupun mereka berada dalam kesempitan dunia.

 

Berkata al Imam Ibnul Qaiyyim rahimahullahu Ta`ala tatkala beliau membicarakan tentang guru beliau Ibnu Taimiyah rahimahullahu Ta`ala: “Bersamaan dengan apa yang beliau rasakan dari bentuk sempitnya penjara, namun demikian beliau adalah manusia yang paling lapang dadanya, paling baik dan paling tenang hatinya. Merebak cahaya kenikmatan pada wajah beliau, sementara kami, apabila sempit terasa oleh kami dunia, bersangatan kesulitan kami rasakan, lantas kami mendatangi beliau, tidak lain tidak bukan kecuali kami mendengar perkataan beliau dan melihat beliau, sampai berubah yang kami rasakan tadi menjadi satu kekuatan, kekokohan dan ketenangan. Subhaanallah! Yang telah memperlihatkan kepada hamba-hambaNya sorgaNya sebelum bertemu denganNya, dan telah membukakan bagi mereka pintu-pintunya di tempat beramal, Dia berikan kepada mereka dari bentuk baiknya sorga dan baunya yang harum sesuai dengan kekuatan mereka untuk mendapatkannya, dan berlomba lombanya mereka untuk kesana”.[5]

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu Ta`ala: “Sesungguhnya di dunia ada satu sorga, barang siapa yang tidak masuk ke dalamnya maka dia tidak akan masuk ke dalam sorga akhirat”.[6]

Dan berkata juga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ketika dikatakan pada beliau: “Sesungguhnya sultan (penguasa) telah memerintahkan supaya kamu diasingkan ke Ciprus, atau membunuh engkau, atau memenjarakan engkau!!”, maka beliau menjawab : “Demi Allah! Sesungguhnya pada saya ada satu kegembiraan dan kesenangan yang kalau dibagikan kepada penduduk negeri syam akan mencukupi mereka. Dan demi Allah! Sesungguhnya saya seperti kambing yang tidak akan tidur kecuali di atas wol, kalau seandainya saya dibuang ke Ciprus saya akan mendakwahi penduduknya kepada Islam”.

Maka berkata salah seorang kaum salaf : “Sesungguhnya pada saya telah berlalu waktu-waktu, maka saya akan mengatakan: “Kalau seandainya penduduk jannah seperti ini, sesungguhnya mereka betul-betul dalam kehidupan yang sangat baik”, dan berkata yang lainnya : “Kalau seandainya para penguasa dan anak-anak mereka mengetahui apa yang kita ada padanya dari bentuk kenikmatan sudah tentu mereka akan melecut kita dengan pedang”.

Kedua : Diantara sebab kebahagian ialah beriman dengan qodho` dan qadar Allah Ta`ala.

Sesungguhnya manusia apabila dia beriman dengan qodho` dan qadar Allah Ta’ala, dia akan merasakan ketenangan jiwa, lapang dada dengan apa-apa yang sudah terjadi atasnya, walaupun seandainya dari apa-apa yang tidak dia senangi. Sungguh Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam telah mengabarkan bahwa beriman dengan qodho` dan qadar merupakan salah satu dari rukun-rukun Iman yang enam.

Al Imam Ahmad telah meriwayatkan dalam “Musnad” beliau satu hadist dari jalan Ibnu `Abbas radhiallahu `anhu bahwa Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam berkata padanya :

“إذا  سألت فاسأل الله، وإذا استعنت فاستعن بالله، قد جف القلم بما هو كائن، فلو أن الخلق كلهم جميعا أرادوا أن ينفعوك بشيء لم يكتب الله عليك، لم يقدروا عليه، وإن أرادوا أن يضروك بشيء لم يكتبه الله عليك، لم يقدرا عليه”.

Artinya : “Apabila kamu meminta, maka mintalah kepada Allah, kalau kamu minta tolong maka minta tolonglah kepadaNya. Sungguh telah kering tinta pena dengan apa yang akan terjadi, kalau seandainya makhluk keseluruhan mereka sepakat ingin memberikan suatu manfaat kepada engkau yang belum dituliskan oleh Allah Ta`ala atas engkau, niscaya mereka tidak akan mampu atasnya, dan demikian juga sebaliknya, kalau seandainya mereka ingin memberikan satu kemudharatan atas engkau yang belum dituliskan olehNya atas engkau, niscaya mereka tidak akan sanggup”.[7]

Berkata `Umar bin al Khatthob radhiallahu `anhu : “Di pagi hari saya, tidak ada satu kegembiraan bagi saya kecuali dalam perkara qodha` dan qadar”.

Ketiga : Memperbanyak dzikrullahi `Azza wa Jalla.

Sungguh terdapat pada dzikrullahi `Azza wa Jalla ini rahasia yang sangat menakjubkan dalam melapangkan dada dan kenikmatan hati. Telah menyebutkan al Imam Ibnul Qaiyyim rahimahullahu Ta`ala seratus faedah dari dzikir, diantaranya yaitu  bahwa dzikir akan menghilangkan rasa gelisah dan sedih, dan juga akan mendatangkan kegembiraan dan kesenangan serta kehidupan yang baik. Allah Jalla wa `Alaa berkata :

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Artinya: “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram”. (Ar Ra`du : 28)

Keempat : Qona`ah dengan rezeki Allah Ta`ala

Sesungguhnya barang siapa yang qona`ah terhadap apa yang sudah dibagikan Allah Subhaana wa Ta`ala, niscaya dadanya akan lapang dan jiwanya akan tenang. Al-imam Muslim telah meriwayatkan satu hadist dalam shohihnya, dari jalan `Abdullah bin `Amrin bin al `Aash radhiallahu `anhu bahwa Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam berkata :

“قد أفلح من أسلم ورزق كفافا، وقنعه الله بما آتاه”.

Artinya : “Sungguh telah beruntung seseorang yang menyerahkan dirinya kepada Allah Jalla wa `Alaa ketika diberi rezeki sekedarnya, dan  Allah Ta`ala akan membuat dia puas dengan apa-apa yang telah diberikan kepadanya”.[8]

Kelima : Hendaklah seorang mukmin mengetahui dengan keyakinan ilmu bahwa kebahagian yang hakiki adalah di akhirat

Sesungguhnya dunia ini merupakan tempat musibah, kegelisahan dan kesedihan, berkata Allah Ta`ala :

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي كَبَدٍ

Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah”. (Al Balad : 4)

Berkata Allah Ta`ala ketika menceritakan tentang penduduk sorga :

وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَذْهَبَ عَنَّا الْحَزَنَ ۖ إِنَّ رَبَّنَا لَغَفُورٌ شَكُورٌ

الَّذِي أَحَلَّنَا دَارَ الْمُقَامَةِ مِنْ فَضْلِهِ لَا يَمَسُّنَا فِيهَا نَصَبٌ وَلَا يَمَسُّنَا فِيهَا لُغُوبٌ

Artinya:

  1. “Dan mereka berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami. Sesungguhnya Rabb kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri”.
  2. Yang menempatkan kami dalam tempat yang kekal (surga) dari karunia-Nya, didalamnya kami tiada merasa lelah dan tiada pula merasa lesu”. (Al-Faathir : 34-35)

Telah meriwayatkan al imam Muslim dalam shohihnya hadist dari jalan Abu Hurairah radhiallahu `anhu bahwa Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam berkata :

“الدنيا سجن المؤمن وجنة الكافر”.

Artinya : “Dunia penjara bagi mukmin dan sorga bagi orang kafir”.[9]

Dan tatkala al-Imam Ahmad rahimahullahu Ta`ala ditanya : “Kapan leganya seorang mukmin ?” Maka beliau menjawab : “Pertama kali saat dia menginjakkan kakinya di sorga”.

والحمد لله رب العالمين، وصلى الله سلم علي نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

 

Diterjemahkan oleh :  al Faqiir Ila `Afwi Rabbihi al Ustadz Abul Mundzir Dzul Akmal Lc ar Riyawwiy al Madaniy as Salafiy dari Kitab : “Ad Durrarul Muntaqootu minal Kalimaatil Mulqooti, Duruusun Yaumiyah”, halaman 525-528, oleh as Syaikh Amiin bin `Abdullah as Syaqaawiy.

340), nomor 4032.

[2] Muslim nomor 1467.

[3] Musnad al Imam Ahmad, nomor 3231

[4] Ibnu Katsiir

[5] Al Waabilus Shoiyyib minal Kalimit Thoiyyib, halaman 82.

[6] Al Waabilus Shoiyyib minal Kalimit Thoiyyib, halaman 81.

[7] Musnad al Imam Ahmad (1/307), potongan hadist.

[8] Muslim (1054).

[9] Muslim (1187)