Minggu, Mei 19, 2019
Home > Artikel > Peringatan ahlus Sunnah dari duduk duduk dengan ahlul Ahwa

Peringatan ahlus Sunnah dari duduk duduk dengan ahlul Ahwa

Tulisan terbaru Syaikh kami Rabee` bin Haadiy al Madkhaliy hafizhohullahu Ta`ala.

بسم الله الرحمن الرحيم

تحذير أهل السنة السلفيين من مجالسة ومخالطة أهل الأهواء المبتدعين

“Peringatan ahlus Sunnah as Salafiyiin dari duduk duduk (bermajlis) dan berbaur dengan ahlul Ahwa al mubtadi` iin”.

 

الحمد لله والصلاة والسلام على رسوله وعلى آله وصحبه ومن اتبع هداه أما بعد :

فإن خير الهدى هدي محمد صلى الله عليه وسلم، وشر الأمور محدثاتها، وكل محدثة بدعة، وكل بدعة ضلالة.

Sesungguhnya diwajibkan atas seorang muslim untuk berpegang teguh diatas al Kitab dan as Sunnah dan menggigitnya dengan gigi geraham mereka.

Dan menjauhi segala bentuk bid`ah dan apa apa yang akan menjatuhkan dia kedalam bid`ah seperti misalnya : berbaur dengan ahlul bida` dan bermajlis dengan mereka serta mencintai mereka.

Berkata Allah Ta`ala :

žw ߉ÅgrB $YBöqs% šcqãZÏB÷sム«!$$Î/ ÏQöqu‹ø9$#ur ̍ÅzFy$# šcr–Š!#uqムô`tB ¨Š!$ym ©!$# ¼ã&s!qߙu‘ur öqs9ur (#þqçR%Ÿ2 öNèduä!$t/#uä ÷rr& öNèduä!$oYö/r& ÷rr& óOßgtRºuq÷zÎ) ÷rr& öNåksEuŽÏ±tã 4 y7Í´¯»s9’ré& |=tFŸ2 ’Îû ãNÍkÍ5qè=è% z`»yJƒM}$# Nèdy‰­ƒr&ur 8yrãÎ/ çm÷YÏiB ( óOßgè=Åzô‰ãƒur ;M»¨Zy_ “̍øgrB `ÏB $pkÉJøtrB ㍻yg÷RF{$# tûïÏ$Î#»yz $yg‹Ïù 4 š_ÅÌu‘ ª!$# öNåk÷]tã (#qàÊu‘ur çm÷Ytã 4 y7Í´¯»s9’ré& Ü>÷“Ïm «!$# 4 Iwr& ¨bÎ) z>÷“Ïm «!$# ãNèd tbqßsÎ=øÿçRùQ$# ÇËËÈ   المجادلة (22).

  1. Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, Sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. meraka Itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan[1462] yang datang daripada-Nya. dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. mereka Itulah golongan Allah. ketahuilah, bahwa Sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.

 

[1462] Yang dimaksud dengan pertolongan ialah kemauan bathin, kebersihan hati, kemenangan terhadap musuh dan lain lain.

 

Ÿwur (#þqãZx.ös? ’n<Î) tûïÏ%©!$# (#qßJn=sß ãNä3¡¡yJtGsù â‘$¨Y9$# $tBur Nà6s9 `ÏiB Èbrߊ «!$# ô`ÏB uä!$uŠÏ9÷rr& ¢OèO Ÿw šcrçŽ|ÇZè? ÇÊÊÌÈ   هود (113).

  1. dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim[740] yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.

 

[740] Cenderung kepada orang yang zalim Maksudnya menggauli mereka serta meridhai perbuatannya. akan tetapi jika bergaul dengan mereka tanpa meridhai perbuatannya dengan maksud agar mereka kembali kepada kebenaran atau memelihara diri, Maka dibolehkan.

Dan disana ada sejumlah hadist hadist Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam yang terkandung didalamnya peringatan/larangan dari bermajlis dengan ahlul bida`.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم  (المرأ مع من أحب).

Artinya : Berkata Rasulullahi Shollallahu `alaihi wa Sallam : “Seseorang tersebut akan bersama dengan orang yang dia cintai”.

Hadist ini dikeluarkan oleh al Imam al Bukhariy (6168), Muslim (2640).

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم  : (المرأ على دين خليله).

Artinya : Bersabda Rasulullahi Shollallahu `alaihi wa Sallam : “Seseorang tersebut dinilai diatas Din temannya”.

Hadist ini dikeluarkan oleh : al Imam Ahmad (8028), Abu Daawud (4833), at Tirmidziy (2378).

وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم  : (الأرواح جنود مجندة، فما تعارف منها ائتلف، وما تناكر منها اختلف).

Artinya : Dan berkata Rasulullahi Shollallahu `alaihi wa Sallam : “Arwah ini diibaratkan seperti balatentara yang sedang berbaris baris, maka barang siapa yang saling kenal mengenal dia akan bersatu dan barang siapa yang saling ingkar mengingkari dia akan berselisih”.

Hadist ini dikeluarkan oleh : al Imam al Bukhariy (3336), Muslim (2638).

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم  : (مثل الجليس الصالح والجليس السوء، كحامل المسك ونافخ الكير، فحامل المسك، إما أن يحذيك, وإما أن تبتاع منه، وإما أن تجد ريحا طيبة، ونافخ الكير : إما أن يحرق ثيابك، وإما أن تجد ريحا خبيثة).

Artinya : Bersabda Rasulullahi Shollallahu `alaihi wa Sallam : “Permisalan sahabat duduk yang sholih dan sahabat duduk yang jelek, seperti seorang penjual minyak wangi dan pandai besi, seorang penjual minyak wangi, samaan dia akan memberi engkau minyak wangi, atau engkau membeli darinya, atau engkau akan mendapatkan darinya bau wangi yang sangat harum, sedangkan pandai besi : samaan dia akan membakar baju kamu, atau kamu akan mendapatkan darinya bau yang sangat busuk”.

Hadist Muttafaqun `alaihi, dikeluarkan oleh al Bukhariy di “shohihnya”, (5534), Muslim di “shohihnya”, (2628).

 

Ijma` (sepakat) para `Ulama diatas memusuhi ahlul bida` dan memboikot mereka.

Berkata al Imam al Baghawiy didalam “Syarhus Sunnah” (1/227)- disela sela komentarnya terhadap kisah Ka`ab bin Malik dan Murarah bin ar Rabee` dan Hilaal bin Umeiyyah radhiallahu `anhum :- “Dan sungguh telah berlalu dikalangan para sahabat dan at Taabi`iin dan orang orang yang mengikuti mereka, serta `ulama as Sunnah atas ini, mereka telah ijma` dan sepakat atas memusuhi ahlul bid`ah, dan memboikot mereka”.

Dan ini sebahagian dari perkataan para `ulama sebagai tambahan dari apa apa yang telah berlalu disebutkan dari dalil dalil nabawiyah (hadist hadist) dan ijma`nya para sahabat serta as Salafus Sholih radhiallahu `anhum :-

Pertama : Abu Hatim rahimahullahu Ta`ala telah menyebutkan dibawah bab (disebutkan tentang  motifasi untuk berteman dengan sahabat sahabat yang baik dan menjauhi bergaul dengan orang orang yang jelek) ketika menyebutkan hadist : (Permisalan teman yang sholih dan teman yang jelek…), kemudian beliau berkata : “Seorang yang ber`aqal dia melazimkan dirinya untuk bersahabat dengan orang yang baik baik dan menjauhi bersahabat dengan orang orang yang jelek, karena mencintai orang yang baik baik akan mempercepat hubungannya dan lambat terputusnya, sedangkan mencintai orang orang yang jelek akan akan cepat putusnya dan lambat hubungannya, dan bersahabat dengan orang orang yang jelek akan mewariskan buruk sangka terhadap orang yang baik baik, dan barang siapa yang berteman dengan orang yang jelek jelek dia tidak akan selamat dimasukan kedalam kelompok mereka.

Maka diwajibkan atas orang yang ber`aqal hendak dia menjauhi para pengikut keraguan supaya jangan dia menjadi orang yang ragu juga, sebagaimana persahabatan dengan orang yang baik baik akan mewariskan kebajikan, demikian juga persahabatan dengan orang yang jelek jelek akan mewariskan kejelekan.”

Berkata juga beliau : (Seorang yang ber`aqal dia tidak akan mengotori kehormatannya dan tidak akan menjerumuskan dirinya kepada sebab sebab kejelekan dengan cara bersahabat dengan orang orang yang jelek, dan jangan dia memejamkan matanya dari menjaga kehormatannya dan melatih jiwanya untuk bersahabat dengan orang yang baik baik, ketahuilah bahwa manusia dengan pengalaman/percobaan akan nampak dari mereka perkara perkara yang bertentangan dengan zhohirnya).

Dan berkata juga beliau : “Seorang yang ber`aqal dia tidak akan bersahabat dengan orang orang yang rusak, karena bersahabat dengan orang yang rusak merupakan potongan dari api yang akan menghasilkan kedengkian/dendam yang tidak akan bersih kecintaannya dan tidak akan memenuhi janjinya, dan sebenarnya diantara bentuk kebahagian seseorang terdapat pada dirinya empat sifat ini : hendaklah istertinya mencocokinya, dan anaknya orang baik baik, dan teman temannya orang orang yang sholih, dan rezqinya dinegeri dia, maka setiap teman yang dia tidak bisa mengambil faedah kebajikan darinya, bermajlis dengan seekor anjing lebih baik baginya dari bersahabat dengan teman yang rusak tadi, dan barang siapa yang bersahabat dengan seorang yang rusak dia tidak akan selamat, seperti keadaan yang masuk ketempat tempat yang jelek sudah tentu dia akan tertuduh”. [1]

Kedua : al Imam al Haafizh Abu `Abdullah `Ubeidillah bin Muhammad bin Muhammad bin Hamdaan bin Batthoh wafat (387 H) telah menyebutkan dalam kitab beliau “al Ibaanah `an Syarii`til Firqatin Naajiyah wa Mujaanabatul Firaqil Madzmuumah”, di “bab at Tahdziir min shuhbati qaumin yumridhuunal Quluub wa yufsiduun Iman”, dalil dalil banyak sekali mulai dari nomor (359-524), dan saya pilihkan dalil dalil yang akan datang :

Berkata rahimullahu Ta`ala :-

369 :- Telah meriwayatkan kepada kami Abul Qaasim hafsh bin `Umar berkata dia : telah meriwayatkan kepada kami Abu Haatim berkata dia : telah meriwayatkan kepada kami al Mu`allaa berkata dia : telah meriwayatkan kepada kami Wuheib, dari Ayyub, dari Abu Qilaabah, berkata Abu Haatim : dan telah meriwayatkan kepada kami Abu Yaziid al Kharraaz berkata beliau : telah meriwayakan kepada kami Ibnu `Ulaiyyah, dari Ayyuub, dari Abi Qilaabah berkata : “Jangan sekali kali kalian bermajlis dengan pengekor pengekor hawa, sungguh saya tidak menjamin akan dibenamkannya kalian kedalam kesesatan mereka, atau mereka akan menyamarkan atas kalian sebahagian apa apa yang sudah kalian ketahui”.

Dan berkata – rahimahullahu Ta`ala -:

371- : Telah meriwayatkan kepada kami Abu Bakr Ahmad bin Muhammad bin al Busriy at Tamiimiy bin Abi Haazim al Kuufiy berkata : telah meriwayatkan kepada kami Ibnu Abi Ghiyaats berkata : telah meriwayatkan kepada kami Abu Sa`iid berkata : telah meriwayatkan kepada kami Abu Khaalid, dari `Amri ibni Qeis, berkata dia : pernah dikatakan : “Jangan kamu bermajlis dengan seseorang yang menyimpang, maka dia akan memalingkan hatimu”.

Bertaka – rahimahullahu Ta`ala – :

376 – : Telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin al Husein, berkaa : telah meriwayatkan kepada kami Ja`far bin Muhammad Abu Bakr al Firyaabiy, berkata : telah meriwayatkan kepada kami Abu Baqiiy Hisyaam bin `Abdul Malik al Himshiy berkata : telah meriwayatkan kepada kami Muhammad bin Harb, dari Abi Salamah Sulaiman bin Suleim, dari Abi Hushein, dari Abi Sholih, dari Ibnu `Abbaas, berkata beliau : “Jangan kalian bermajlis dengan pengekor pengekor hawa, sesungguhnya majlis mereka penyakit bagi hati hati ini”.

Berkata – rahimahullahu Ta`ala : –

378 – : Telah meriwayatkan kepada kami Abul Qaasim Hafsh bin `Umar, berkata : telah meriwayatkan kepada kami Abu Haatim, berkata : saya telah meriwayatkan dari Baqiyyah bin al Waliid, berkata : telah meriwayatkan kepada kami Sulaiman bin Suleim, dari Habiib, dari Abi az Zarqaai, dari al Hasan, berkata : “Jangan kalian bermajlis dengan ahlul hawaa, sesungguhnya majlis mereka akan membuat hati ini sakit”.

Berkata – rahimahullahu Ta`ala – :

395- : Telah meriwayatkan kepada kami Abu al Qaasim, berkata : telah meriwayatkan kepada kami Abu Haatim, berkata : telah meriwayatkan kepada kami Abu Sa`iid al Asyaj, berkata : telah meriwayatkan kepada kami Abu Khaalid, dari `Amri bin Qeis al Mallaaiiy, berkata : “pernah dikatakan : jangan kamu bermajlis dengan seseorang yang menyimpang, maka dia akan menyesatkan hatimu”.

Berkata – rahimahullahu Ta`ala – :

400 – : Telah meriwayatkan kepada kami Abu Hafsh `Umar bin Muhammad, berkata beliau : telah meriwayatkan kepada kami Abu Haatim, berkata : telah meriwayatkan kepada kami Ahmad bin Yuunus, berkata : telah mengkhabarkan kepada kami Zaaidah, dari Hisyam berkata : Adalah al Hasan dan Muhammad berkata : “Jangan kalian bermajlis dengan pengekor pengekor hawa, dan jangan kalian berdialog dengan mereka, dan janganlah kalian mendengar dari mereka”.

Berkata – rahimahullahu Ta`ala – :

403 – : Telah meriwayatkan kepada kami Abu `Abdullah Muhammad bin Makhlad bin Hafsh al `Atthoor, berkata : telah mendiktekan kepada kami Ya`quub ibnu Ibraahiim, berkata : telah meriwayatkan kepada kami Sa`iid bin `Aamir, berkata : saya telah mendengar nenek saya Asmaa` menceritakan sambil berkata : “telah masuk dua orang lelaki kerumah Muhammad bin Siiriin dari pengikut ahlul bida` sambil mereka berdua berkata : wahai Aba Bakr !, kami akan menyampaikan kepada kamu satu hadist, berkata Ibnu Siiriin : jangan, berkata lagi mereka : kami akan bacakan kepadamu satu ayat dari Kitaabullahi, beliau menjawab : jangan, kalian berdua pergi dari saya atau saya yang akan pergi”.

Berkata – rahimahullahu Ta`ala – :

407 – : Telah meriwayatkan kepada kami Abu Bakr Muhammad bin al Husein, berkata : telah meriwayatkan kepada kami al Firyaabiy, berkata : telah meriwayatkan kepada kami Abul Khatthoob Ziyaad bin Yahya, berkata : telah menyampaikan kepada kami Sa`iid bin `Aamir, berkata : telah menyampaikan kepada kami Sallaam bin Abi Muthii`, bahwa seorang lelaki dari kalangan ahlul bida` berkata kepada Abu Ayyuub as Sakhtiyaaniy : “wahai Aba Bakr saya mau bertanya kepadamu satu kalimat, Ayyuub menjawab sambil mengisyaratkan dengan dua jarinya : dan tidak setengah kalimat, dan tidak setengah kalimat”.

Berkata – rahimahullahu Ta`ala – :

426 – : Telah menceritakan kepada kami Abul Qaasim `Umar, berkata : telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Muhammad, berkata : telah menceritakan kepada kami Abu Bakr al Marruudziy, berkata :  telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Khallaad al Baahiliy, berkata : saya telah mendengar Yahya bin Sa`iid al Qothhoon, berkata : “Takkala Sufyaan ats Tsauriy datang ke Bashrah, mulailah beliau meneliti keadaan ar Rabee` Ya`laa bin Shubeih, dan kedudukannya disisi manusia, lalu beliau bertanya : apa madzhabnya ?, mereka menjawab : tidak ada madzhabnya kecuali as Sunnah, lalu beliau bertanya kembali : siapa teman temannya ?, mereka menjawab : pengikut al Qadar, berkata al Imam Sufyaan : jadi… dia adalah Qadariy (pengikut ahlil qadar)”.

Berkaa asy Syaikh : “Semoga Allah Ta`ala merahmati al Imam Sofya ats Tsauriy, sungguh telah berbicara dengan hikmah, maka beliau benar, dan berkata dengan `ilmu mencocoki al Kitab dan as Sunnah, dan apa apa yang dituntunkan oleh hikmah dan disaksikan oleh mata serta diketahui oleh ahlil bashiirah (ahli `ilmu) dan penjelasan, berkata Allah Jalla wa `Alaa :

$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãYtB#uä Ÿw (#rä‹Ï‚­Gs? ZptR$sÜÎ/ `ÏiB öNä3ÏRrߊ Ÿw öNä3tRqä9ù’tƒ Zw$t6yz (#r–Šur $tB ÷L—êÏYtã ô‰s% ÏNy‰t/ âä!$ŸÒøót7ø9$# ô`ÏB öNÎgÏdºuqøùr& $tBur ‘Ïÿ÷‚è? öNèdâ‘r߉߹ çŽt9ø.r& 4 ô‰s% $¨Y¨t/ ãNä3s9 ÏM»tƒFy$# ( bÎ) ÷LäêZä. tbqè=É)÷ès? ÇÊÊÑÈ

  1. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya. Surah Aali `Imran.

Berkata – rahimahullahu Ta`ala – :

Telah meriwayatkan kepada kami Abu `Amri `Utsman bin Ahmad bin `Abdullah ad Daqqaaq, berkata : telah meriwayatkan kepada kami Ja`far bin Muhammad al Khayyaath, berkata : telah menceritakan kepada kami `Abdus Shomad bin Yaziid ash Shooigh, Marduuyah berkata : saya telah mendengar al Fudheil ibnu `Iyaadh berkata : “arwah arwah ini diibaratkan balatentara yang berbaris baris, maka mana yang saling kenal mengenal dia akan bersatu, dan mana yang saling tidak mengenal dia akan berpisah, dan tidak akan mungkin seorang pengikut Sunnah dia akan bersahabat dengan pengikut bid`ah kecuali dia munafiq”.

Berkata asy Syaikh : “Telah benar al Fudheil rahmatullahi `alaihi, sesungguhnya kita telah menyaksikan demikian dengan mata kepala kita”.

Bertaka – rahimahullahu Ta`ala – :

Telah mengkhabarkan kepada saya Abul Qaasim `Umar bin Ahmad al Qoshbaaniy, berkata : telah meriwayatkan kepada kami Ahmad bin Muhammad bin Haaruun, berkata : telah meriwayatkan kepada kami Abu Bakr al Marruudziy, berkata : telah meriwayatkan kepada kami Ziyaad bin Ayyuub ath Thuusiy, berkata : telah meriwayatkan kepada kami Mubassyir bin Isma`il al Hubuliy, berkata : dikatakan kepada al Imam al Auzaa`iiy : ada seorang lelaki mengatakan : saya bermajlis dengan ahlus Sunnah, dan juga bermajlis dengan ahlul bida`, maka berkata al Auzaa`iiy : lelaki ingin menyamakan diantara  kebenaran dan kebathilan”.

Berkata asy Syaikh : “Telah benar al Auzaa`iiy, saya berkata : sesungguhnya lelaki ini tidak mengetahui kebenaran dari kebathilan, dan tidak mengetahui kekufuran dari keimanan, dan pada seperti inilah turun al Quran, dan datang as Sunnah dari al Mushthofaa Shollallahu `alaihi wa Sallam, berkata Allah Ta`ala :

#sŒÎ)ur (#qà)s9 tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#þqä9$s% $¨YtB#uä #sŒÎ)ur (#öqn=yz 4’n<Î) öNÎgÏYŠÏÜ»u‹x© (#þqä9$s% $¯RÎ) öNä3yètB $yJ¯RÎ) ß`øtwU tbrâä̓öktJó¡ãB ÇÊÍÈ

  1. dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: “Kami telah beriman”. dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka[25], mereka mengatakan: “Sesungguhnya Kami sependirian dengan kamu, Kami hanyalah berolok-olok.” Al Baqorah (14).

Berkata – rahimahullahu Ta`ala – :

441 – : Telah meriwayatkan kepada kami Abu Bakr bin Abi Haazim, berkata : telah meriwayatkan kepada kami Abu Ja`far al Hadhramiy, berkata : telah meriwayatkan kepada kami Masruuq bin al Marzubaan, berkata : telah meriwayatkan kepada kami Abu Ismaa`iil al Faarisiy, berkata : saya telah mendengar Muhammad bin al Qoosim al Asy`abiy bertanya kepada Hammaad bin Zeid, Hammaad telah menceritakan kepada Muhammad al Asy`abiy dari Muhammad bin Waasi`, berkata : berkata Muslim bin Yasaar : “Jangan sekali kali kamu mengokohkan seorang pelaku bid`ah dipendengaranmu, sebab dia akan menuangkan pada pendengaranmu apa apa yang tidak sanggup kamu untuk mengeluarkannya dari hatimu”.

Berkata – rahimahullahu Ta`ala – :

457 – : Telah meriwayatkan kepada kami Abu `Ali Muhammad bin Ishaaq ash Showwaaf, berkata : telah menceritakan kepada kami Abu Ja`far Muhammad bin Nashrin, berkata : telah meriwayatkan kepada kami `Abdush Shomad bin Yaziid ash Shooyigh, berkata : saya telah mendengar Isma`iil ath Thuusiy berkata : berkata kepada saya Ibnul Mubaarak : “Hendaklah majlis engkau bersama orang orang miskin, dan hindari oleh engkau bermajlis dengan pelaku bid`ah”.

Mereka 13 orang `ulama dari kumpulan 165 `ulama dari `ulama ahlis Sunnah yang keseluruhan mereka mentahdzir/mewanti wanti dari bermajlis dan berbaur dengan ahlul ahwa; didasari diatas nash nash Nabawiyyah yang mencakup didalamnya larangan berbaur dan mencintai ahlil bida` dan ahwa.

Dan dibangun diatas pengalaman mereka dan ke`ilmuan mereka tentang pengaruh ahlul bida` terhadap orang orang yang bermajlis dengan mereka.

 

Ketiga : Berkata al Imam al Khathoobiy – rahimahullahu Ta`ala – di dalam Syarh Sunan Abi Daawud ketika mensyarahkan perkataan Rasulullahi Shollallahu `alaihi wa Sallam (لا تصاحب إلا مؤمنا ولا يأكل طعامك إلا تقي)

Artinya : “Jangan kamu berteman kecuali dengan seorang mu`min dan jangan memakan makanan engkau kecuali seorang taqwa”.[2]

“Hanyasanya Rasulullahi Shollallahu `alaihi wa Sallam melarang dari berteman dengan seorang yang tidak bertaqwa dan melarang dari berbaur dan makan bersama dengannya, dikarenakan makan bersama, duduk bersama akan mendatangkan kecintaan dan kasih sayang didalam hati, berkata beliau : jangan kamu berkasih sayang dengan orang yang ahlit Taqwa dan wara` dan jangan kamu menjadikannya sebagai teman bermajlis dan makan bersamanya serta minum bersamanya”.[3]

Dan berkata juga beliau di dalam mensyarahkan hadist : (الأرواح جنود مجندة)

Artinya : “Arwah ini bagaikan balatentara yang sedang berbaris baris”. Berkata Rasulullahi Shollallahu `alaihi wa Sallam pada hadist yang maknanya : “Sesungguhnya jasad jasad yang terdapat padanya arwah (ruh ruh) akan bertemu didunia ini, bahkan akan saling bersatu satu sama lainnya dan akan berpisah satu sama lainnya seukuran apa yang dia diciptakan atasnya dari bentuk keserupaan dan perbedaan diawal awal ciptaannya, oleh karena itu kamu akan melihat seorang yang baik dia akan mencintai yang serupa dengannya dan merasa rindu untuk selalu dekat dengannya serta menjauh dari lawannya, dan demikian juga seorang yang rusak dan pelaku dosa sudah tentu dia juga kan menyenangi orang yang serupa dengannya dan menganggap baik perbuatannya lalu berpaling dari lawannya”.[4]

 

Keempat – : al Imam Abul Qoosim Hibatullahi bin al Hasan bin Manshuur al Laalikaaiiy telah menampilkan di dalam kitab beliau “Syarhu Ushuuli I`tiqaadi ahlis Sunnah wal Jamaa`ah” dalil dalil sangat banyak sekali dari para `ulama as Sunnah, mulai dari nomor (231-313).

Diantaranya perkataan beliau – rahimahullahu Ta`ala – :

 

231 – : Telah mengkhabarkan kepada kami al Hasan bin `Ustmaan, berkata : telah mengkhabarkan kepada kami Ahmad bin al Hasan, berkata : telah menceritakan kepada kami Bisyrun ibnu Muusaa, telah menceritakan kepada kami Sa`iid bin Manshuur, berkata : telah meriwayatkan kepada kami Hammad bin Zaid, dari `Amri bin Maalik, dari Abi al Jauzaai, berkata : “Bertetangga dengan saya kera atau babi lebih saya senangi daripada bertetangga dengan saya salah seorang dari mereka”. Maksudnya pengekor pengekor hawa nafsu.

Berkata – rahimahullahu Ta`ala – :

Telah mengkhabarkan kepada kami `Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Bakr, berkata : telah meriwayatkan kepada kami al Hasan bin `Utsmaan, berkata : telah meriwayatkan kepada kami Ya`quub bin Sufyaan, berkata : telah menceritakan kepada kami `Amru bin `Utsmaan, berkata : telah menceritakan kepada kami Baqiiyah, berkata : telah menceritakan kepada kami Tsaabit bin al `Ajlaan, berkata : “Saya telah bertemu dengan Anas bin Malik, Ibnu al Musaiyyib, al Hasan al Bashriy, Sa`iid bin Jubeir, asy Sya`biy, Ibrahim an Nakha`iiy, `Athoo bin Abi Rabaah, Thowus, Mujaahid, `Abdullahi bin Abi Muleikah, az Zuhriy, Mahkuula, al Qoosim Aba `Abdir Rahman, `Athoo al Khurasaaniy, Tsaabit al Bunaaniy, al Hakam bin `Utbah, Ayyuub as Sakhtiyaaniy, Hammaad, Muhammad bin Siiriin, dan Aba `Aamir”, – dan sesungguhnya beliau juga bertemu dengan Abu Bakr ash Shiddiiq -, dan Yaziid ar Raqaasyiy, Sulaiman bin Muusa, keseluruhan mereka memerintahkan kepada saya untuk selalu dalam al Jamaa`ah, dan melarang saya dari ashhaabil ahwaa”. Berkata Baqiyyah : “kemudian beliau menangis sambil berkata : “wahai anak saudaraku, tidak ada satu `amalan yang lebih saya harapkan dan tidak juga lebih dipercayai dari berjalan menuju masjid ini”. Maksudnya masjid al bab.

Mereka para `ulama yang 22 orang ini merupakan bahagian dari jumlah 82 orang `alim yang disebutkan oleh al Imam al Laalikaaiiy dalam rangka menjelaskan Manhajus Salaf dan sikap sikap mereka terhadap ahlul bida` dan ahwa.

 

Kelima : Berkata al Imam an Nawawiy – rahimahullahu Ta`ala – dibawah hadist yang telah lewat – yaitu perkataan Rasulullahi Shollallahu `alaihi wa Sallam :

(مثل الجليس الصالح)- : “Pada hadist ini terdapat keutamaan bersahabat dengan orang orang sholih dan pengikut kebajikan dan keperwiraan dan akhlaq akhlaq yang mulia dan wara` dan `ilmu dan adab, dan juga larangan dari bermajlis dengan orang orang yang jelek akhlaq dan manhajnya, dan ahlul bida` dan orang yang senang menggibah manusia atau banyak perbuatan kejinya dan serampangannya dan sejenis yang demikian dari jenis jenis perbuatan yang tercela”. [5]

Keenam – : Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah – rahimahullahu Ta`ala – : “Adapun ar raafidhiy dia tidak akan bergaul dengan seseorang kecuali dia menggunakan terhadap orang tersebut nifaq, sesungguhnya din (agama) yang ada di dalam hatinya din rusak, menggiringnya kepada kedustaan dan khianat, dan menipu manusia, dan menginginkan kejelekkan terhadap mereka, dia tidak mengabaikan terhadap mereka kerusakan, dan tidak dia tinggalkan satu kejelekan yang mampu dia atasnya kecuali dia lakukan terhadap mereka, dia dibenci disisi orang yang tidak mengetahuinya, dan kalau seandainya tidak diketahui bahwa dia raafidhiy, akan nampak pada wajahnya tanda tanda nifaq dan pada salah pembicaraan, oleh karena itu kamu akan mendapatinya berlaku nifaq terhadap manusia yang lemah dan kepada siapapun yang dia tidak berhajat kepadanya, karena terdapat dalam hatinya bentuk nifaq yang melemahkan hatinya”.

Sedangkan seorang mu`min bersamanya kemulian iman, sesungguhnya kemulian hanyalah bagi Allah Jalla wa `Alaa dan RasulNya Shollallahu `alaihi wa Sallam dan bagi orang orang mu`min sementara mereka menda`wakan keimanan sedangkan manusia lainnya tidak, padahal kehinaan pada mereka lebih banyak daripada seluruh golongan dari kalangan muslimin.

Sungguh Allah Ta`ala berfirman :

$¯RÎ) çŽÝÇZoYs9 $oYn=ߙ①šúïÏ%©!$#ur (#qãZtB#uä ’Îû Ío4quŠptø:$# $u‹÷R‘‰9$# tPöqtƒur ãPqà)tƒ ߉»ygô©F{$# ÇÎÊÈ

  1. Sesungguhnya Kami menolong Rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat). Surah Ghaafir (51). Sedangkan mereka (rawaafidh) merupakan kelompok ahlul Islam yang sangat jauh dari kemenangan, dan kelompok yang paling utama untu ditinggalkan. Maka diketahuilah bahwa mereka adalah kelompok ahlul Islam yang paling dekat kepada nifaq, dan yang paling jauh dari keimanan.

Dan tanda demikian adalah bahwa munafiqin yang sebenarnya adalah orang orang yang pada diri mereka tidak ada keimanan dari kalangan al malaahidah (kaum ateis/munaafiqin/musyrikin), mereka lebih condong kepada raafidhoh, dan seorang penganut madzhab raafidhoh lebih condong lebih banyak kepada mereka dari seluruh golongan yang ada.

Sungguh telah bersabda – Rasulullahi Shollallahu `alaihi wa Sallam – :

(الأرواح جنود مجندة، ما تعارف منها ائتلفو، وما تناكر منها اختلف).

Artinya : “Arwah ini diibaratkan seperti bala tentara yang sedang berbaris baris, maka barang siapa diantara arwah tersebut saling kenal mengenal maka dia akan menyatu, dan barang siapa diantaranya saling tidak kenal mengenal maka dia akan berpisah dengan sendirinya”. Dan berkata Ibnu Mas`uud radhiallahu `anhu – : “Kalian nilailah manusia tersebut dengan teman teman mereka”.

Maka diketahuilah bahwa diantara arwah arwah kaum raafidhoh dan arwah kaum munafiqin sangat cocok sekali ; seukuran kebersamaan dan keserupaannya, dan ini dikarenakan pada kaum raafidhoh adanya nifaq, sesungguhnya nifaq bercabang cabang.

Sebagaimana dalam shohih al Bukhariy dan Muslim rahimahumallahu Ta`ala – : dari Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam – bahwa beliau bersabda :-

(أربع من كن فيه كان منافقا خالصا، ومن كانت فيه خصلة منهن كانت فيه شعبة من النفاق حتى يدعها : إذا حدث كذب، وإذا اؤتمن خان، وإذا عاهد غدر، وإذا خاصم فجر) اهـ

Artinya : “Empat sifat barang siapa yang ada dirinya empat sifat ini maka dia dikatakan sebagai munafiq murni, dan barang siapa terdapat pada diri satu sifat dari empat sifat ini, maka berarti sudah ada satu cabang kemunafikan pada dirinya sampai dia meninggalkan : apabila dia bicara dusta, dan apabila dipercayai dia khianat, dan apabila berjanji dia mungkir, dan apabila dia berkhusumat dia berbuat dosa”.[6]

Berkata – rahimahullahu Ta`ala – : Maka persahabatan, hubungan kerabat dari bentuk pernikahan dan persaudaraan tidak boleh kecuali dengan orang orang yang ta`at kepada Allah Ta`ala dan sesuai dengan yang diinginkan olehNya, dan ditunjukan demikian ini oleh hadist dalam as sunan :

(لا تصاحب إلا مؤمنا ولا يأكل طعامك إلا تقي). وفيها : (المرأ على دين خليله؛ فلينظر أحدكم من يخالل). أهـ

Artinya :  Bersabda Rasulullahi Shollallahi `alaihi wa Sallam : “Janganlah kamu bersahabat kecuali dengan mu`min, dan jangan memakan makanan engkau kecuali seorang yang berta`wa”. Dan dalam as Sunan juga : “Seseorang tersebut dinilai diatas Din temannya; maka hendaklah salah seorang kalian memilih siapa yang akan dia jadikan teman”. [7]

 

Ketujuh : Dan berkata al Imam asy Syaathibiy – rahimahullahu Ta`ala – setelah beliau menjelaskan riwayat riwayat dalam perkara peringatan dari ahlul bida` – :

Dan dari Yahya bin Abi Katsir – rahimahullahu Ta`ala – berkata : “Apabila engkau bertemu dengan mubtadi` dijalan; maka hendaklah kamu cari jalan yang lain”. Dan dari Abi Qilaabah berkata beliau : “Jangan sekali kali kalian bermajlis dengan ahlul ahwa, dan jangan berdialog dengan mereka; sesungguhnya saya tidak menjamin bahwa mereka akan membenamkan kalian dalam kesesatan mereka, dan akan membuat samar atas apa apa yang telah kalian ketahui”.

Dan dari Ibrahim berkata beliau : “Jangan kalian bermajlis dengan pengekor pengekor hawa, dan jangan kalian berbicara dengan mereka; maka sesungguhnya saya merasa khawatir akan murtad hati hati kalian”, dan riwayat riwayat dalam hal ini sangat banyak.

Dan disokong lagi dengan apa yang diriwayatkan dari Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam bahwa beliau bersabda : “Seseorang itu dinilai diatas Din temannya, maka hendaklah salah seorang kalian memperhatikan siapa yang akan dia jadikan sebagai teman”.

Dan sisi demikian suatu yang jelas diingatkan dalam perkataan Abu Qilaabah,  kadang kadang seseorang tersebut diatas keyakinan dari satu perkara dari perkara perkara  as Sunnah, lantas seorang pengekor hawa menancapkan satu bid`ah kedalam hatinya dari apa apa yang berbentuk satu lafazh yang tidak ada asalnya, atau menambah satu ikatan padanya dari pendapatnya, kemudian hatinya menerimanya, maka apabila dia kembali kepada apa yang pernah dia ketahui, dia akan mendapatkannya dalam kegelapan, sama ada dia merasakan dengannya; maka tentu dia akan menolaknya dengan `ilmu, atau dia tidak mampu untuk menolaknya, sama ada dia tidak merasakan dengannya, maka akhirnya dia akan berlalu dengan orang orang yang binasa.[8]

 

Kedelapan : Berkata al Imam al Haafizh Ibnu Hajar – rahimahullahu Ta`ala – : “Di dalam hadist ini terdapat larangan bermajlis dengan orang orang yang akan merusak Agama dan dunia orang yang bermajlis dengannya, dan juga motifasi untuk bermajlis dengan orang orang yang akan memberi mamfa`at kepada orang yang bermajlis dengannya”.[9]

 

Kesembilan : Dan berkata al Imam ash Shon`aaniy – rahimahullahu Ta`ala – disela sela beliau mensyarahkan hadist ini : perkataan Rasulullahi Shollalahu `alaihi wa Sallam : (atau kamu akan mendapatkan dari pandai besi tersebut bau busuk) – : demikianlah teman yang jelek sama ada dia akan merusak Din kamu dan dia akan membakarmu dengan apinya atau dia akan mendatangkan kepadamu kesulitan dan kesempitan, dan hadist ini memotifasi untuk menjauhi teman yang jelek dan mendekati teman yang sholih, – berkata Rasulullahi Shollallahu `alaihi wa Sallam :

(لا تصحب الفاجر فإنه يزين لك فعله ويود أنك مثله).

Artinya : “Janganlah bersahabat dengan seorang pelaku dosa, sesungguhnya dia akan menghiasi bagimu perbuatannya dan menyenangi supaya kamu seperti dia”. Dan dikatakan : “Jauhilah oleh engkau bermajlis dengan orang orang yang jelek, maka sesungguhnya tabi`at engkau akan dihasilkan dari mereka sementara kamu tidak mengetahui”.[10]

 

Kesepuluh : Dan berkata al `Azhiim Abaadiy – rahimahullahu Ta`ala – : “Dan pada hadist ini terdapat tuntunan untuk memotifasi bersahabat dengan orang orang sholih dan para `ulama dan bermajlis dengan mereka akan memberikan mamfa`at didunia dan diakhirat, dan menghindari untuk bersahabat dengan orang orang yang jelek dan orang orang fasiq, sesungguhnya bermajlis dengan mereka akan memudhoratkan dunia dan akhirat”.[11]

 

Berkata al  `Azhiim Abaadiy – rahimahullahu Ta`ala – :

Al Arwaah artinya : arwaah manusia, kata junuudun bentuk flural dari jundun artinya sekumpulan, sedangkan mujannadatun artinya : sekumpulan yang saling berhadapan atau bercampur baur, diantaranya golongan Allah dan diantaranya golongan syaithon, (maka yang saling kenal mengenal diantara arwah tersebut), yang dimaksud dengan saling kenal mengenal adalah terjadinya perkenalan diantara dua orang sedangkan saling ingkar mengingkari kebalikannya, maksudnya : apa apa yang saling kenal mengenal sebahagiannya dari sebahagian lainnya sebelum masuk arwah tersebut kebadan maka dihasilkanlah diantaranya persatuan dan kasih sayang dan bersatu, kemudian terjadilah persatuan diantara keduanya dalam jasad jasad didunia ini. Sebaliknya (yang saling ingkar mengingkari), maksud di `alam arwah maka dia akan (berselisih), maksudnya di `alam nyata ini.

Berkata al Imam an Nawawiy – rahimahullahu Ta`ala – : adapun makna perkataan Rasul Shollallahu `alaihi wa Sallam : (Arwah tersebut bagaikan balatentara yang sedang berbaris baris), maksudnya kelompok yang bersatu atau jenis jenis yang berbeda.

Adapun bentuk saling kenal mengenalnya : dia merupakan satu perkara yang telah Allah Ta`ala jadikan diatasnya, dan dikatakan juga kecocokannya dalam sifat sifatnya yang telah Allah jadikan diatasnya dan juga sesuai dalam sifat sifatnya.

Dan dikatakan juga : sesungguhnya arwah tersebut diciptakan dalam keadaan bersatu kemudian dipisahkan dalam jasad jasadnya, maka barang siapa saling mencocoki dalam sifat sifatnya dia akan saling bersatu atau bertemu dan barang siapa yang saling jauh menjauhi dan saling hindar menghindari dia saling berselisih.

Dan berkata al Imam al Khotthoobiy dan selalin beliau – rahimahumullahu Ta`ala -:

“Bentuk saling kenal mengenalnya adalah apa apa yang Allah Tabaraka wa Ta`ala telah menciptkan atasnya kebahagian atau kecelakaan didalam awal penciptaan, dimana seluruh arwah tersebut terbagi kepada dua bahagian yang berlawanan, apabila saling bertemu jasad jasad tersebut didunia maka dia akan bersatu dan berpisah sesuai dengan penciptaan atasnya, maka akan condonglah yang baik baik kepada yang baik baik dan yang jelek jelek akan kepada yang jelek jelek juga.

Berkata al Imam al Mundziriy – rahimahullahu Ta`ala – : “Telah mengeluarkan juga al Imam Muslim hadist dari Suheil bin Abi Sholih dari Abi Hureirah radhiallahu `anhu”. [12]

Berkata orang tua kita Syakhuna Rabee` al Madkhaliy – hafizhohullahu Ta`ala –  : “Kami akan mewanti wanti pemuda salafiy dari berbaur dengan ahlul ahwaa, dan berkasih sayang dengan mereka, dan cendrung kepada mereka, maka hendaklah kalian mengambil pelajaran dari kaum salaf terdahulu, maka barang siapa tertipu dengan dirinya dan dia memandang dirinya bahwa dia mampu menunjuki para pengikut kesesatan, dan dia sanggup untuk mengembalikan mereka dari kepalsuan mereka dan kesesatan mereka; dan rupanya terjadi pada diri kecendrungan dan serampangan kemudian tenggelamlah dia kedalam pangkuan ahlil bida`.

Sungguh telah berlalu pengalaman dan percobaan ini dari awal sejarah Islam, dimana manusia manusia dari kalangan anak anak shohabat takkala mereka cendrung ibnu saba`; terjerumuslah mereka kedalam kesesatan.

Dan manusia manusia dari kalangan anak anak shohabat dan at taabi`iin takkala mereka cendrung kepada al Mukhtar bin Abi `Ubeid; terjerumuslah mereka dalam kesesatan.

Dan demikian juga manusia manusia damasa ini dimana mereka telah condong kepada kebanyakan para da`i politik yang sesat dari kalangan gembong gembong pimpinan bida`; lantas mereka terjerumus kedalam lilitan pengikut kesesatan.

Mereka banyak dan sungguh banyak sekali, akan tetapi kami akan sebutkan disini kisah `Imraan ibnu Hitthoon, dimana dia awalnya dari kalangan ahlis Sunnah lalu dia menyenangi seorang wanita dari kalangan khawarij, maka dian ingin menikahinya dan menuntunnya kepada as Sunnah; rupanya wanita tersebutlah yang menjerumuskannya kepada bid`ah, awalnya dia ingin menunjukinya rupanya dia sesat disebabkan oleh wanita tersebut.

Dan banyak dari mereka yang menisbahkan diri mereka kepada manhajus Salaf berkata : “Saya masuk kepada ahlul ahwaa untuk menunjuki mereka kepada kebenaran, rupanya dia yang terjerumus dalam jaringan mereka.

`Abdurrahman ibnu Muljam, dan `Imran ibnu Hitthoon, kedua duanya ini sebelumnya menisbahkan diri mereka kepada as Sunnah kemudian mereka terjatuh dalam kesesatan, perbuatan dosa `Abdurrahman ibni Muljam menggiring dia sampai membunuh `Ali bin Abi Thoolib – radhiallahu `anhu-, dan demikian juga `Imraan bin Hitthoon dimana perbuatan dosa dialah menggiring dia untuk memuji `Abdurrahman ibni Muljam pembunuh `Ali –radhiallahu `anhu-, kita memohon kepada Allah Ta`ala ampunan.

Berkata `Imraan bin Hitthoon :

يا ضربة من تقي ما أراد بها          إلا ليبلغ من ذي العرش رضوان

اني لأذكره حينا فأحسبه               أوفي البرية عند الله ميزانا

أكرم بقوم بطون الطير أقبرهم        لم يخلطوا دينهم بغيا وعدوانا

Artinya : Wahai pukulan dari orang yang bertaqwa, tidaklah dia menginginkan dengan pukulan itu kecuali melainkan untuk mencapai ridho dari pemilik al `Arsy, sesungguhnya aku benar benar menyebutnya, maka aku mengiranya sebagai makhluk yang paling cukup timbangannya disisi Allah Ta`ala, alangkah mulianya satu kaum yang perut perut burung sebagai kuburan mereka, dimana mereka tidak mencampur adukan agama mereka dengan kezholiman dan permusuhan.

Sampai terakhir dari bait bait yang keji ini dia ucapkan sebagai bentuk pujiannya kepada simujrim (zholim) ini, semoga Allah Ta`ala memberkahi kalian.

Dan telah terjadi pada diri al Imam `Abdur Razaaq ash Shon`aaniy – rahimahullahu Ta`ala, beliau salah seorang imam ahlul Hadist yang dimana beliau tertipu dengan `ibadah dan zuhud Ja`far bin Sulaiman adh Dhobu`iiy, beliau menyenanginya sampai beliau terjatuh kedalam perangkap tasyaiyu` (pemahaman syi`ah).

Al Imam Abu Dzarr al Harawiy – perawi kitab ash Shohih dengan berbagai riwayat- beliau juga salah seorang imam ahlul Hadist, namun demikian beliau tertipu dengan satu perkataan yang diucapkan oleh al Imam ad Daaruqutniy dalam pujian beliau terhadap al Baaqilaaniy; maka kalimat pujian terhadap al Baaqilaaniy ini menarik dia untuk terjerumus kedalam perangkap madzhab al `Asyaa`irah, sehingga dia menjadi salah seorang da`i dari para da`i al `Asyaa`irah; sehingga tersebarlah dikarenakan dia madzhab al `Asy`ariy dibahagian barat negeri `Arab, kemudian penduduk Maghrib menisbahkan diri mereka kepadanya, lantas mereka mendatanginya dan menziarahinya, dan tersebarlah dikalangan mereka manhaj al `Asy`ariy, dimana sebelumnya mereka tidak mengenal kecuali al Manhajus Salaf;  maka dialah yang telah mencontohkan bagi mereka sunnah yang jelek, kita meminta kepada Allah Jalla wa `Alaa ampunan.

Sebagaimana Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam bersabda :

(من دعا إلى هدى كان له من الأجر مثل أجور من تبعه لا ينقص من أجورهم شيئا، ومن دعا إلى ضلالة كان عليه من الوزر مثل أوزارهم إلى يوم القيامة لا ينقص من أوزارهم شيئا).

Artinya : “Barang siapa yang menyeru kepada satu petunjuk maka adalah baginya satu ganjaran seperti ganjaran ganjaran orang yang mengikutinya dan tidak mengurangi dari ganjaran ganjaran mereka sedikitpun, dan sebaliknya barang siapa yang mengajak kepada satu kesesatan maka adalah atasnya satu dosa seperti dosa dosa orang yang mengikutinya sampai hari kiamat dan tidak mengurangi sedikitpun dari dosa dosa mereka).[13]

Dan al Imam al Baihaqiy tertipu dikarenakan sebahagian pengikut kesesatan, seperti Ibnu Fuurak dan semisalnya, dan beliau juga merupakan salah seorang `ulama Hadist lantas terjerumus kedalam madzhab al `Asyaa`irah.

Kadang kadang disana ada seorang bodoh yang terlalu percaya kepada dirinya, dan tertipu dengannya, sementara dia tidak memiliki `ilmu yang membentenginya; maka orang seperti ini akan lebih utama terjerumus kedalam bid`ah ratusan kali daripada mereka sebelumnya.

Dan dimasa ini banyak sekali contoh contoh dari kalangan mereka yang kita telah mengetahui sebelumnya berada di atas al Manhajus Salaf; dan takkala mereka berbaur dengan ahlul bid`ah mereka tersesat; karena ahlul bida` dihari ini memiliki uslub uslub, dan mereka memiliki kegiatan kegiatan, dan bahkan mereka memiliki berbagai cara – yang mungkin saja syaithon syaithon tidak mengetahuinya diwaktu yang lalu- maka mereka mengetahui sekarang ini uslub uslub tersebut dan cara cara demikian – bagaimana mereka menipu manusia, – diantara uslub uslub ahlul bida` dizaman ini: misalnya : “bahwa engkau membaca dan ambil al haq dan tinggalkan kebatilan, banyak dari kalangan pemuda tidak mengetahui al haq daripada kebatilan, dan tidak bisa membedakan diantara al haq dan kebatilan, maka terjerumuslah dia kedalam kebatilan sementara dia melihat itu adalah al haq, kemudian dia menolak kebenaran sementara dia melihat itu adalah kebatilan, dan terbaliklah dalam pandangannya perkara perkara ini, sebagaimana dikatakan oleh shohabat yang mulia Hudzeifah ibnul Yaman radhiallahu `anhu : “Sesungguhnya satu kesesatan tersebut betul betul sesat, dimana engkau mengingkari apa yang engkau ketahui, dan engkau membenarkan apa yang engkau ingkari”.

Maka engkau menyaksikan ini dilapangan da`wah salaf dan didalam tubuh tubuh mereka- Maa Syaa Allahu – apa yang kamu rasakan – kecuali sungguh telah berobah seorang miskin tersebut,  rupanya setelah itu dia memerangi ahlus Sunnah, dan jadilah setelah itu disisinya satu kemungkaran kebaikan, dan satu kebaikan kemungkaran, dan inilah sebenarnya kesesatan yang betul betul sesat, maka kami mengingatkan dan mewanti wanti para pemuda jangan sampai tertipu dengan ahlul bida` dan condong kepada mereka.

 

Ditulis oleh : Syaikhuna dan orang tua kita Rabee` bin Haadiy al Madkhaliy hafizhohullahu Ta`ala.

13 Shofar 1438.

 

Diterjemahkan oleh : al Faqiir kepada ampunan Rabbnya Jalla wa `Alaa

Abul Mundzir/Dzul Akmal bin Muhammad Kamal as Salafiy al Madaniy ar Riyawwiy

Hari Kamis 21 Rabii`ul Tsaaniy 1438 H/19 Januari 2017M- dikediaman beliau- pondok Ta`zhiim as Sunnah – Rimbo Panjang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

[1] Raudhatul `Uqalaa (99-103).

[2] Abu Daawud  (4832) dan at Tirmidziy (2395).

[3] Ma`aalimus Sunan (4/115), cetakan halab.

[4] Ma`aalimus Sunan (4/115).

[5] Syarhu an Nawawiy `ala Muslim (16/178).

[6] Minhaajus Sunnah (6/425-427).

[7] Dari Majmuu`ul Fataawa (15/327), oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.

[8] Al I`tishoom (1/172-173), oleh al Imam asy Syaathibiy – Tahqiiq Salim al Hilaaliy.

[9] Fathul Baariy (4/324), oleh Ibnu Hajar.

 

[10] At Tanwiir Syarhu al Jaami`ush Shoghiir (9/521).

[11] `Aunul Ma`buud (13/178).

[12] `Aunul Ma`buud (9/2117).

[13] Ash Shohiihah oleh al Imam al Albaaniy rahimahullahu Ta`ala, nomor (865).