Selasa, Desember 18, 2018
Home > Aqidah > Masuk Surga dan Neraka Dikarenakan Seekor Lalat

Masuk Surga dan Neraka Dikarenakan Seekor Lalat

Masuk Surga dan Neraka Dikarenakan Seekor Lalat

 

الحمد لله, والصلاة والسلام على رسول الله صلى الله عليه وسلم، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله، وبعد:

Dalam hadist yang diriwayatkan dari jalan Thoriq bin Syihabradiyallahu ‘anhu, Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda:

“Telah memasuki Surga seorang lelaki dikarenakan seekor lalat dan telah memasuki Neraka seorang lelaki juga dikarenakan seekor lalat.”Lalu sahabat bertanya: “Bagaimana hal itu bisa terjadi wahai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam?” Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam menjawab: “Ada dua orang lelaki telah melewati suatu kaum yang memiliki berhala. Tidak diperkenankan seorangpun melewatinya melainkaniamengorbankan sesuatu kepada berhala tersebut. Maka kaum tersebut mengatakan kepada salah satu diantara kedua lelaki tersebut: “Lakukanlahpengorbanan!”Lalu lelakiitumengatakan: “Aku tidak punya sesuatu apapun yang dapat aku korbankan.” Kemudian kaum tersebut berkata: “Lakukanlah walau hanya dengan seekor lalat!” Maka lelaki tadi pun melakukan pengorbanan dengan seekor lalat sehingga merekapun mengijinkan iauntuk melewatinya. Karena sebab itulah ia kemudian dimasukkan ke dalam Neraka. Dan kaum tadi pun mengatakan kepada lelaki yang kedua: “Lakukanlan pengorbanan!”Ia menjawab: “Aku tidak akan melakukan pengorbanan sesuatu apapun kepada selain Allah ‘azza wa jalla”. Akhirnya merekapun memenggal lehernya dan karena itulah, ia masuk ke dalam Surga.

(HR. Ahmad – dalam Az-Zuhud 15-16, Ibnu Abi Syaibah: 473/6, Abu Na’im dalam Al-Hilyah: 203/1, Al-Baihaqi dalam Syu’ab: 475/5; dari jalan Thoriq bin Syihab, dari Salman Al-Farisi radiyallahu ‘anhu, sanadnya mauquf)

Kaum Muslimin yang dirahmati oleh Allah Subhaanahu wa Ta’ala,

 

Berikut ini adalah penjelasan tentang derajat hadits diatas.

Thoriq bin Syihab radiyallahu ‘anhu adalah seorang sahabat yang mulia yang berjumpa dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam, akan tetapi dalam hadits ini ia tidak mendengar langsung dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallamsehingga hadits ini dikatakan dengan hadits “Mursal Shohabiy”.

Para ulama menjelaskan makna hadits mursal yaitu hadits yang diangkat oleh tabi’in atau hadits yang diriwayatkan oleh tabi’in dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam berupa ucapan, perbuatan dan amalan tanpa menyebutkan perawi-perawi hadits dari kalangan sahabat dan tabi’in. Sehingga arti dari hadits mursal shohabiy adalah apa saja yang diriwayatkan oleh para sahabat dari perkataan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam, perbuatan dan amalannya, namun ia tidak mendengar langsung dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam atau ia tidak punya saksi dari kalangan sahabat yang dia mendengarkan darinya dalam meriwayatkan hadits ini. Hal ini dapat terjadi dikarenakan sahabat tersebut masih berumur kecil saat mendengar hadits itu atau sahabat tersebut memeluk Islam di masa-masa belakangan hari.

Mursal-nya sahabat dalam meriwayatkan hadits, maka riwayatnya diterima karena para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam tidak akan menyampaikan hadits kecuali didapatkannya dari sahabat-sahabat yang lain.Oleh karena itu, mursal-nya sahabat tidak sebagaimana mursal-nya selain mereka dan para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam semuanya adalah orang yang‘udlu (adil).

‘Adlu artinya adalah istiqomah.Lelaki yang ‘adlu adalah sebuah pensifatan pada pribadi seseorang yang memberikan konsekuensi ke-istiqomahan pada dirinya dan agamanya serta memiliki kehormatan. Lelaki yang istiqomah di dalam agama dan terjaga kehormatannya maka ia memiliki sifat ‘adlu danseorang yang fasiq (pelaku dosa) ia tidak disifati dengan ’adlu. Sebagai contoh, jika seandainya ada seorang lelaki yang memutuskan hubungan silaturahmimaka ia tidak dikatakan ‘adlu, walaupun ia seorang yang paling jujur di dalam penukilannya. Hal ini sebagaimana dengan firman Allah ‘azza wa Jalla:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Artinya: “Wahai orang-orang beriman, jika seandainya datang seorang fasiq dengan membawa suatu berita, maka periksalah terlebih dahulu kebenarannya, jangan sampai engkau menimpakan bencana kepada suatu kaum karena kebodohan yang akhirnya engkau menyesali perbuatanmu itu” (QS. Al-Hujurat: 6)

Berdasarkan ayat ini, maka kabar dari seorang yang fasiq keadaannya tidak diterima dan tidak juga ditolak sampai jelas keabsahannya / kebenarannya.Para ulama mensyaratkan bahwa suatu hadits shohih itu diterima jika perawinya adalah ‘adlu.

Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman dalam kitabNya yang mulia:

وَأَشْهِدُوا ذَوَيْ عَدْلٍ مِنْكُمْ وَأَقِيمُوا الشَّهَادَةَ لِلَّهِ

Artinya: “Dan mengambil persaksian dengan 2 orang saksi dari orang-orang yang ‘adlu (adil) diantara kalian dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah Ta’ala.“(QS. At-Tholaq: 2)

Al-‘adlu adalah orang yang memiliki marwah atau kehormatan. Sehingga ia mampu menjaga dirinya atas apa saja yang dapat menjatuhkan kehormatannya di tengah-tengah manusia dengan menghiasai dirinya dengan akhlak yang terpuji agar kehormatannya tidak rusak di kalangan manusia. Contohnya apabila seseorang melakukan perbuatan yang masyarakat menganggap perbuatan tersebut adalah perbuatan yang jelek, maka ia bukanlah ‘adlu. Dan para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam seluruhnya adalah ‘adlu dan kita diharamkan menjatuhkan kehormatan mereka.Oleh karena itu, hadits ini derajatnya dapat diterima, walau sanad-nya mursal shohabiy.

Selanjutnya berikut ini adalah penjelasan dari hadits yang disebutkan di awal.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam berkata: “Telah memasuki Surga seorang lelaki dikarenakan seekor lalat…”

Ini adalah perkataan yang menakjubkan, oleh karena itu para sahabatpun merasa takjub dan heran ketika disampaikan hadits ini kepada mereka. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam dalam menyampaikan hadits ini tidak menjelaskan maksudnya di awal-awal kalimatnya, hal ini dilakukan agar para sahabat benar-benar memperhatikan, merindukan dan berhadap untuk mengetahui maknanya. Sehingga kemudian para sahabat bertanya: “Bagaimana hal itu bisa terjadi wahai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam?”

Maka berdasarkan hadits ini, seyogyanya bagi seorang pengajar dapat melakukan hal yang sama dalam memberikan pelajaran kepada anak didiknya karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam adalah suri tauladan yang terbaik.

Dan kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam berkata: “Ada dua orang lelaki telah melewati suatu kaum…”

Kaum di dalam perkataan ini maksudnya adalah umat terdahulu yang memiliki shonam (berhala) yang mereka ibadahi. Dalam bahasa Arab,shonam maknanya adalah apa saja yang dalam bentuk rupa hewan yang dipahat dan dibentuk atau yang semisalnya. Dan adapun yang diibadahi dari patung atau berhala yang berupa selain bentuk hewan seperti pepohonan, bebatuan dan kuburan, maka dinamakan dengan watsan.Sehingga apabila kuburan disembah / diibadahi, maka kuburan tersebut dinamakan dengan watsan dan pengikutnya dalam istilah bahasa Arab dinamakan “watsaniyyah”. Hal ini sebagaimana dalam hadits bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda:

“Ya Allah Ta’ala, janganlah engkau jadikan kuburanku sebagai watsan yang diibadahi…”.(HR. Ahmad: 7358, dari jalan Abu Hurairoh dan sanadnya qowi / kuat)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam kemudian berkata: “Tidak diperkenankan seorangpun melewatinya melainkan ia mengorbankan sesuatu kepada berhala tersebut. Maka kaum itu mengatakan kepada salah satu diantara kedua lelaki tersebut: “Lakukanlah pengorbanan !”. Lalu seorang lelaki mengatakan: “Aku tidak punya sesuatu apapun yang dapat aku korbankan….”

Maksud perkataan diatas yaitu salah satu bentuk pengagungan kepada berhala adalah dengan melakukan pengorbanan sehingga kaum itu mengatakan kepada kedua lelaki tersebut: Lakukanlah pengorbanan!”.Maka lelaki yang pertama dia mengajukan udzur dikarenakan ia tidak memiliki sesuatu untuk dikorbankan. Dia tidak mengatakan: “Sesungguhnya sembelihan kepada selain Allah Ta’ala adalah haram dan dilarang”. Sehingga ini menjadi bukti bahwa kalaulahia memiliki sesuatu, pastilah akan ia persembahkan kepada berhala tersebut.

Dari keadaan ini, maka dapat diambil pelajaran bahwa orang yang berbuat maksiat tanpa meyakini bahwa itu adalah perbuatan haram, maka ini merupakan perbuatan dan keyakinan yang sangat berbahaya dan dapat membuatnya masuk ke dalam neraka dikarenakan ia menghalalkan yang diharamkan oleh Allah Ta’ala. Hal ini berbeda dengan orang yang berbuat maksiat, namun ia tahu bahwa itu adalah haram, maka tobatnya ia lebih dapat diharapkan dibandingkan seseorang yang berbuat maksiat namun meyakini bahwa perbuatan tesebut bukanlah haram.

Dan kemudian dilanjutkan dengan perkataan: “Kemudian kaum itu berkata: “Lakukanlah walau hanya dengan seekor lalat!”. Maka lelaki tadi pun melakukan pengorbanan dengan seekor lalat sehingga merekapun mengijinkan ia untuk melewatinya. Karena sebab itulah ia kemudian dimasukkan ke dalam Neraka.”

Ketika lelaki tadi setelah ia berkorban dengan menyembelih seekor lalat, maka iapun diperbolehkan untuk lewat dan kemudian iadimasukkanke neraka dikarenakan kesyirikan yang ia lakukan, yakni menyembelih kepada selain Allah Ta’ala.

Kaum Muslimin yang dirahmati Allah Ta’ala,

Yang menjadi tolok ukur disini adalah niat dan tujuan lelaki tersebut, bukan bentuk dan ukuran apa yang ia sembelih dan korbankan.

Sementara lelaki yang kedua mengatakan ketika diperintahkan untuk berkorban kepada berhala tersebut dengan mengatakan: “Aku tidak akan melakukan pengorbanan sesuatu apapun kepada selain Allah ‘azza wa jalla”.

Arti perkataan ini adalah lelaki kedua tidak akan melakukan pengorbanan dengan menyembelih sesuatu apapun dan bagi siapapun, selain kepada Allah Ta’ala saja. Sehingga kemudian kaum itu membunuhnya dan ia pun dimasukkan ke dalam surga dikarenakan TAUHID yang dimilikinya.

Maka pelajaran-pelajaran yang dapat diambil dalam hadits ini adalah:

  1. Kita dapat mengambil pelajaran dengan membicarakan atau berdasarkan sesuatu yang shohih tentang kisah umat-umat terdahulu.
  2. Hadit ini adalah dalil pengharaman dalam hal menyembelih kepada selain Allah Ta’ala. Barangsiapa yang menyembelih kepada selain Allah Ta’ala, maka ia telah melakukan kesyirikan. Lelaki yang pertama dalam hadits ini menyembelih lalat dan kemudian dimasukkan ke dalam neraka, walaupun hal tersebut kecil. Akan tetapi lelaki yang kedua menganggap hal ini adalah sesuatu yang besar, walaupun itu adalah perbuatan yang kecil dan remeh.
  3. Bahwa yang menjadi poros/acuansuatu perbuatan atau amalan adalah amalan hati.Walaupun seandainya pada lahiriyahnya amalan tersebut adalah remeh, akan tetapi yang menjadi penilaian adalah pada hatinya. Betapa banyak amalan yang kecil, tetapi niat yang menjadikannya besar, selagi ia ikhlas melakukannya kepada Allah Ta’ala. Dan betapa banyak amalan yang besar, tetapi niat yang menjadikan amalan yang besar tersebut menjadi hancur.

Hal ini sebagaimana diriwayatkan dalam suatu hadits yang menyebutkan bahwa Allah Ta’ala tatkala bertanya kepada hamba-hambaNya tentang kenikmatan-kenikmatan dunia telah diberikan kepada mereka. Mereka mengatakan bahwa mereka menggunakan nikmat-nikmat tersebut dengan melakukan amalan-amalan sholeh, yaitu salah seorang menyebutkan dipergunakan jihad dan kemudian meninggal diatas amalan tersebut, kemudian yang lain mengatakan dipergunakan untuk menuntut ilmu dan mengajarkannya dan yang seorang lain lagi mengatakan mempergunakan nikmat dari Allah Ta’ala dengan bersedekah dan berinfaq di jalan Allah Ta’ala. Namun kemudian Allah Ta’ala mendustakan perkataan mereka tersebut dan memasukkan mereka ke dalam neraka karena mereka melakukan amalan-amalan sholeh tersebut bukan karena Allah Ta’ala, namundikarenakan agar iadikatakan sebagai seorang yang gagah berani / pahlawan atau sebagai seorang yang alim dan qori’ (pembaca Al-Qur’an yang batik) dan sebagai seorang yang dermawan. Mereka memperoleh apa yang mereka inginkan di dunia, namun di akhirat Allah Ta’ala memerintahkan malaikatNya untuk menyeret mereka diatas muka-muka mereka dan melemparkan mereka ke dalam neraka.

(HR. Muslim dalam Kitabul Imarah bab Man Qaatala lir Riya’ was Sum’ah Istahaqqannar (VI/47) atau III/1513-1514 no. 1905, An Nasa-i, Kitabul Jihad bab Man Qaatala Liyuqala: Fulan Jari’, Sunan Nasa-i (VI/23-24), Ahmad dalam Musnad-nya (II/322) dan Baihaqi (IX/168).

  1. Hadit ini menunjukkan dekatnya surga dan neraka bagi manusia. Sebagaimana dikatakan dalam hadits:

“Surga itu lebih dekat kepada seseorang diantara kalian daripada tali sendalnya dan neraka seperti itu juga“.(HR. Bukhori: 6388 dan Ahmad: 3923).

Maka lihatlah lelaki yang kedua ini, kaum tersebut membunuhnya namun ia kemudian dimasukkan ke dalam surga sedangkan lelaki yang pertama ia dimasukkan ke dalam neraka.

  1. Bahwa lelaki yang pertama yang menyembelih lalat ini tadinya adalah seorang mukmin dan kemudian ia dimasukkan ke dalam neraka dikarenakan penyembelihannya terhadap lalat yangdiperuntukkan bagi berhala. Kalaulah seandainya lelaki ini sebelumnya adalah seorang yang kafir, maka ia akan masuk nerakan dikarenakan kekafiran yang ada pada dirinya sebelumnya, tetapi lelaki ini dimasukkan ke neraka karena menyembelih lalat. Hal ini menunjukkan bahwa ia tadinya adalah seorang mukmin. Oleh karena itu, bagaimana mereka yang saat ini melakukan penyembelihan kepada kuburan, jin, dukun dan yang sejenisnya? Hal ini adalah perbuatan syirik besar dan akan dapat mengeluarkan seseorang yang melakukannya dari Islam, walaupun jika seandainya kesyirikan besar itu dilakukan dengan hal-hal yang kecil. Ketahuilah bahwa masalah-masalah AKIDAH, tidak ada toleransi baginya.

 

الحمد لله رب العالمين، وصلى الله على نبينا محمد، وعلى آله وأصحابه أجمعين

Tulisan ini ditulis dengan menyadur pembahasan dari kitab:I’aanatul Mustafid bi Syarhi Kitabit Tauhid As-syaikh Muhammad bi Abdul Wahhab Rahimahullahu Ta’ala oleh As-Syaikh Sholeh Fauzan bi ‘Abdillah Fauzan Al-Fauzan Hafidzahullah Ta’ala yang disampaikan pada kajian rutin di Masjid Ibnu Abbas- Duri pada Sabtu malam tanggal 20 Dzul Qa’adah 1437 H / 23 Agustus 2016 oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Rizqy Hafidzahullahu Ta’ala dan disadur oleh Abu Yusuf Cipto.