Selasa, Desember 18, 2018
Home > Aqidah > Waspadailah 4 Perkara yang Dilaknat oleh Allah Ta’ala

Waspadailah 4 Perkara yang Dilaknat oleh Allah Ta’ala

Waspadailah 4 Perkara yang Dilaknat oleh Allah Ta’ala

،هل كيرش لا هدحو للها لاإ هلإ لا نأ دهشأو ،ملسو هيلع للها ىلص للها لوسر ىلع ملاسلاو ةلاصلاو ,لله دملحا : دعبو ،هلوسرو هدبع ادممح نأ دهشأو

 

Dalam hadist yang diriwayatkan dari sahabat ‘Ali bin Abi Thalib radiyallahu ‘anhu, telah meng-hadistkan kepadaku Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam beberapa kalimat:

“Allah Ta’ala melaknat siapa saja yang menyembelih dengan memperuntukkan kepada selain Allah Ta’ala, Allah melaknat siapa saja yang melaknat kedua orangtuanya, Allah Ta’ala melaknat siapa saja yang memberikan pertolongan kepada pelaku kejahatan, Allah Ta’ala melaknat siapa saja yang merubah letak batas tanah”  (HR. Muslim: 5124 dan Ahmad: 755)

Kaum Muslimin yang dirahmati oleh Allah Subhaanahu wa Ta’ala,

Laknat artinya adalah penjauhan dan pengusiran dari Rahmat Allah Subhaanahu Ta’ala. Sehingga berdasarkan hadist ini, maka ketahuilah ada beberapa perkara yang dapat mendatangkan laknat dari Allah Ta’ala kepada seseorang, yaitu:

  1. Allah Ta’ala melaknat siapa saja yang menyembelih untuk selain Allah Ta’ala

Menyembelih kepada selain Allah Ta’ala maknanya adalah seseorang menyembelih untuk mendekatkan diri kepada selain Allah Ta’ala, seperti untuk berhala, patung, sesuatu yang dikeramatkan, bebatuan, pepohonan, jin dan yang selain itu. Tidaklah Allah Ta’ala melaknat sesuatu kecuali sesuatu tersebut merupakan perkara yang besar dan berbahaya.

Menyembelih kepada selain Allah Ta’ala adalah kejahatan besar di sisi Allah Ta’ala, baik sembelihan itu kecil dan sedikit ataupun besar dan banyak, hukumnya adalah sama, yakni mendapatkan laknat dari Allah Ta’ala.

Ketahuilah, laknat ini diberikan dari Sang Khaliq, Allah Subhaanahu wa Ta’ala, dan bukan dari makhluk yang ada, sehingga ini bukanlah suatu perkara yang biasa dan remeh.

Bentuk menyembelih kepada selain Allah Ta’ala ada beberapa bentuk, yaitu

  • Menyembelih dengan menyebut nama selain nama Allah Ta’ala atau seseorang dalam hati atau keyakinannya menyembelih dalam rangka mendekatkan diri kepada selain Allah Ta’ala seperti kepada kuburan, pohon, jin, berhala dan yang sejenisnya dibarengi keyakinan dan niat di dalam hatinya bahwa ini adalah ibadah dan suatu amalan sholeh. Atau seseorang tersebut melakukan penyembelihan dengan keinginan untuk menolak kejahatan atau bala terhadap sesuatu. Hal ini banyak dilakukan di tempat-tempat keramat dengan kekhawatiran akan mendapatkan bala dari penghuni jin di tempat tersebut jika ia tidak melakukan sembelihan.

 

  • Menyembelih yang dilakukan ketika datangnya kemarau panjang di suatu daerah atau negeri. Contohnya seseorang membawa seekor “sapi muda” atau yang sejenisnya dari hewan ternak dan menyembelihnya di suatu tempat tertentu seperti di dekat kuburan dengan tujuan agar diturunkan hujan. Terkadang mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan dengan datangnya hujan setelah melakukan sembelihan tersebut, namun hal tersebut bukanlah menjadi pembenaran atas apa yang mereka lalukan, bahkan itu adalah bala bagi mereka dari Allah     Ta’ala      yang     tidak     mereka      sadari. Semakin jauhnya mereka dari kebenaran dengan perbuatan maksiat yang mereka lakukan akan membuat diri mereka sulit untuk keluar dari kesesatan tersebut. Pegangan kita terhadap suatu kebenaran adalah dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah NabiNya Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam.

 

  • Menyembelih kepada selain Allah Ta’ala dalam bentuk ritual atau amalan walau ia menyebut nama Allah Ta’ala di dalam menyembelihnya. Sebagai contoh adalah seseorang menyembelih dalam rangka menyambut kedatangan dan mengagungkan seseorang dari kalangan para penguasa atau orang-orang mulia, yakmi menyembelih ketika mereka turun dari mobil atau mendarat dari pesawat yang mereka naiki.

 

  • Menyembelih ketika dilakukan pembangunan dari suatu bangunan seperti gedung bertingkat, jembatan, rumah dan yang sejenisnya. Hal ini sebagaimana ketika di awal masa pembangunan suatu gedung perkantoran atau pabrik, mereka menyembelih ketika alat-alat konstruksi mulai bekerja atau ketika menaikkan atap rumah dan yang semisalnya. Mereka melakukan hal tersebut karena rasa takut terhadap jin di tempat tersebut, dan inilah bentuk kesyirikan. Lain halnya jika seseorang menyembelih ketika hendak menghuni rumah dalam rangka sebagai bentuk rasa syukur dengan mengundang makan keluarga dan tetangga, maka hal seperti ini adalah tidak mengapa.

 

  1. Allah Ta’ala melaknat siapa saja yang melaknat kedua orangtuanya

 

Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menggandengkan hak kedua orangtua dengan hak Allah Ta’ala sebagaimana di dalam Al-Qur’an yang mulia, Allah Ta’ala berfirman:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

Artinya:     “Dan  beribadahlah  kepada  Allah (Ta’ala) dan janganlah menyekutukannya dengan sesuatu apapun, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua …” (QS. An-Nisa: 36)

 

Dan dalam hadits tentang larangan berbuat jelek kepada kedua orangtua juga digandengkan setelah larangan berbuat jelak terhadap hak Allah Ta’ala berupa larangan dari berbuat kesyirikan, sebagaimana terdapat dalam hadits yang menyebutkan tentang 7 perkara yang membinasakan, dan disebutkan bahwa yang pertama adalah berbuat syirik dan yang kedua adalah durhaka kepada kedua orang tua. (HR. Bukhori: 2766 dan Muslim: 262 ; dari jalan Abu Hurairoh radiyallahu ‘anhu).

Seseorang yang berbuat jelek kepada kedua orangtuanya dengan mencela atau melaknat keduanya maka ia akan mendapatkan laknat dari Allah Ta’ala dan hal ini merupakan suatu dosa besar. Sama saja apakah ia melaknat kepada kedua orangtuanya dalam bentuk langsung atau orangtuanya mendapatkan laknat dari orang lain dikarenakan perbuatannya. Sebagai contoh adalah seseorang melaknat orang lain, sehingga orang lain tersebut tidak senang dan kemudian ia melaknat kedua orang tuanya. Kadang manusia tidak melaknat kedua orangtuanya secara langsung, namun ia dapat menjadi sebab dilaknatnya kedua orangtuanya oleh orang lain dikarenakan perbuatannya.

 

Hal    ini      sebagaimana    dikatakan  oleh  Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam dalam haditsnya, beliau Shallallahu ‘Alaihi Wassallam berkata:

“Sesungguhnya diantara dosa besar adalah seseorang lelaki melaknat kedua orangtuanya sendiri.” Para sahabat bertanya: ”Bagaimana seorang lelaki bisa melaknat kedua orangtuanya wahai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam?”

Dan     beliau      Shallallahu ‘Alaihi Wassallam menjawab: “Seorang yang ia mencela bapak seorang lelaki, lalu lelaki tadi (membalas) mencela bapaknya. Dan seorang yang ia mencela ibu seorang lelaki, lalu lelaki tadi (membalas) mencela ibunya”. (HR. Bukhori: 5973, Muslim: 263 dan Ahmad: 6529 ; dari jalan Ibnu ‘Amru radiyallahu ‘anhu) Seorang muslim tidaklah diperbolehkan atasnya perbuatan suka mencela atau sering berkata kotor dan keji. Karena sesungguhnya seorang muslim itu wajib memiliki akhlak yang agung dan terpuji dan senantiasa menghiasi dirinya dengan perkataan yang baik. Allah Ta’ala memerintahkan dengan firman-Nya:

 

Artinya: “dan berkata yang baiklah kepada manusia” (QS. Al-Baqarah: 83)

Kemudian di ayat yang lain juga Allah Ta’ala berfirman:

 

Artinya: “Balaslah mereka dengan yang lebih baik… “ (QS. Al-Mukminuun: 96)

Ini adalah hukum asal seorang muslim, dia membalas perbuatan lawannya dengan yang lebih baik dan memberikan yang terbaik kepada orang lain sesama muslim. Maka demikian seyogyanya seorang muslim itu hendaklah menjaga lisannya dari perkataan kotor yang rendah dan keji, lebih-lebih lagi apabila perkataan tersebut termasuk dari perkataan yang paling buruk, keji dan jelek dari bentuk perkataan laknat, celaan dan makian. Bahkan hewan ternak dan tunggangan atau kendaraan yang kita pakai atau naiki atau tempat tinggal yang kita berteduh diatasnya, tidak diperbolehkan untuk kita melaknatnya, mencela dan memakinya.

Sungguh dahulunya ada seorang wanita, dia melaknat kendaraannya berupa seekor unta yang ia miliki, ketika itu dia bersama Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam, sehingga Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassallam memerintahkan untuk menyita kendaraannya tadi dan dilepaskan begitu saja dan tidak boleh seorangpun yang menghadangnya. (HR Muslim: 6604, Ahmad: 19870 ; dari jalan ‘Imron bin Hushoin radiyallahu ‘anhu).

 

  1. Allah Ta’ala melaknat siapa saja yang memberikan pertolongan / pembelaan kepada muhditsaa (pelaku kejahatan)

Muhdits artinya adalah siapa saja yang melakukan suatu dosa / kejahatan yang dengan dosa / kejahatan yang ia lakukan membuatnya berhak untuk mendapatkan hukuman seperti qishash, rajam, hukuman cambuk, penjara dan bentuk hukuman-hukuman lainnya.

Apabila ada seseorang yang memiliki jabatan atau kekuasaan atau pasukan atau bentuk kekuatan yang ada pada dirinya datang memberikan perlindungan kepada pelaku kejahatan, sehingga ia menghalangi tegaknya hukuman terhadap pelaku kejahatan yang dilindunginya tadi maka seseorang tersebut mendapatkan laknat dari Allah Ta’ala berdasarkan hadits ini.

Oleh karena itulah, berhati-hatilah kita dari segala bentuk pembelaan terhadap para pelaku kejahatan, baik dalam bentuk media sosial yang ada seperti Facebook, Twitter, WhatsApp dan yang semisalnya dengan memberi dukungan atau pembelaan atasnya, karena ini merupakan salah satu bentuk yang dapat mendatangkan laknat dari Allah Ta’ala.

Di       dalam       hadits       yang       lain,       Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam berkata:“Barangsiapa yang syafaatnya / pertolongannya berhasil menggagalkan suatu bentuk hukuman dari hukuman-hukuman Allah Ta’ala, maka sungguh ketika itu ia telah melakukan penentangan dan perlawanan atas Allah Ta’ala di dalam urusan-Nya”. (HR. Abu Dawud: 3597, Ahmad: 5385 ; dari jalan Ibnu ‘Umar radiyallahu ‘anhu dan sanadnya shahih)

Rasulullah       Muhammad       Shallallahu         ‘Alaihi Wassallam juga berkata: “Tunaikanlah hukuman dan sanksi ditengah-tengah kalian, lalu apabila ada orang yang punya kekuasaan dan kemudian ia berupaya untuk menggagalkan hal ini, maka Allah Ta’ala melaknat kepada yang memberikan pertolongan dan yang mendapatkan pertolongan.” (HR. Abu Dawud 4376, an-Nasai: 4890 ; dari jalan Ibnu ‘Amru radiyallahu ‘anhu dan sanadnya hasan)

Dan dalam riwayat yang lain tatkala seorang lelaki mencuri riddah (pakaian luar) Shofwan ibnu Umayyah radiyallahu ‘anhu ketika ia berada di masjid, kemudian Shofwan berhasil menangkapnya. Lalu ia membawa lelaki tadi ke hadapan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam-pun memutuskan untuk memotong tangan lelaki yang mencuri tadi. Maka Shofwan pun berkata: “ Ya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam, riddah ini milik dia dan saya tidak ingin ini”. Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam menjawab: “Kenapa engkau tidak memaafkannya sebelum engkau datang menghadapku dengan membawanya?”

(HR. Abu Dawud: 4394, an-Nasaai: 4882, Ibn Majah: 2595, dan Ahmad: 15303 ; dari jalan Shofwan ibnu Umayyah radiyallahu ‘anhu dan sanadnya shahih).

Maka berdasarkan hadits ini, apabila sudah jatuh hukuman kepada seseorang di mahkamah syariah, hukuman tersebut haruslah ditunaikan, kecuali apabila di dalam penegakkan hukuman ini akan memudhorotkan kepada selainnya. Seperti seorang wanita pelaku zina yang hamil apabila ditegakkan baginya hukuman, maka akan memudhorotkan bayi yang dikandungnya, sehingga hukuman atasnya diakhirkan sampai ia melahirkan atau yang semisal dengan ini.

Maka dari hadits-hadits yang disebutkan ini dapat disimpulkan bahwa memberikan pertolongan kepada pelaku kejahatan, dosa, maksiat atau yang semisal dengannya yang ia berhak untuk mendapatkan hukuman lalu menghalangi turunnya hukuman kepada mereka, maka hal ini termasuk dosa besar dan mendapatkan laknat dari Allah Ta’ala.

Di sebagian riwayat yang lain, bentuk lafadz dalam hadits adalah muhdats yang maknanya adalah bid’ah (hal-hal baru dari bentuk ibadah yang dilakukan tanpa ada dalil yang memerintahkan hal tersebut). Maka siapa saja yang ikut serta atau membela atau ridho kepada bid’ah sementara ia sanggup untuk menghindarinya, maka keadaannya termasuk ke dalam hadits ini. Begitu juga mereka yang diam saja terhadap bid’ah, maka ia telah melakukan perbuatan yang mendukung bid’ah dengan diamnya ia dari bid’ah tersebut tanpa mengingkarinya, apalagi bagi mereka yang melakukan perbuatan bid’ah, yang mengayominya dan bahkan membelanya, maka mereka layak mendapatkan laknat dri Allah Ta’ala.

 

  1. Allah Ta’ala melaknat siapa saja yang merubah manaar (batas tanah)

Ada 3 pendapat para ulama terkait dengan manaarul ‘ardh (tanda batas tanah), yaitu:

  • Batas atau pancang tanah, sesuai dengan perkataan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam: “Barangsiapa yang mengambil sejengkal saja tanah orang tanpa didasari kebenaran, maka kelak di hari Kiamat dia akan ditimpakan/digulung dengan tujuh lapis tanah” (HR. Bukhori 3198 , Muslim 4134 dan Ahmad 1642, dari jalan Sa’id bin Zaid radiyallahu ‘anhu )

 

  • Tanda-tanda batas dari tanah Haram yang mencakup keutamaan yang mana tidak didapatkan jika sudah berada di luar batas tanah Haram berupa bentuk ibadah dan yang selainnya dan juga Allah Ta’ala telah menjadikan di sekitar Ka’bah adalah tanah Haram dari berbagai sisi berupa larangan-larangan seperti larangan membunuh binatang buruan atau mengusirnya, menebang pohon dan mengambil barang temuan kecuali orang yang memilikinya dan juga dilarang berperang di wilayah Haram kecuali dalam rangka pembelaan. Tanda-tanda ini dibuat dari berbagai sisi wilayah  Haram, seperti di sisi Tan’iim, Hudaibiyah, ‘Arafaat dan Namiroh sebagai batas territorial dari wilayah Haram.

 

  • Tanda-tanda yang ada di jalan dan ini diketahui berupa rambu penunjuk arah, rambu-rambu informasi tujuan / arah dan yang sejenisnya yang mana apabila ada yang merubah atau mengalihkan tanda-tanda tersebut maka dapat menyesatkan manusia ke arah tujuannya.

 

Dari ketiga pendapat ini, yang paling rojih / kuat adalah pendapat yang pertama, yaitu batas atau pancang tanah.

Oleh karena itu, berpegang dengan hadits dari Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam ini, maka hendaklah seorang muslim mewaspadai hal-hal yang dapat mendatangkan laknat Allah Ta’ala atas dirinya, menjauhinya dan memperingati manusia atasnya.

ينعجمأ هباحصأو هلآ ىلعو ،دممح انيبن ىلع للها ىلصو ،ينلماعلا بر لله دملحا

ditulis dengan menyadur pembahasan dari kitab: I’aanatul Mustafid bi Syarhi Kitabit Tauhid As-syaikh Muhammad bi Abdul Wahab Rahimahullahu Ta’ala oleh As-Syaikh Sholeh Fauzan bin ‘Abdillah Fauzan Al-Fauzan Hafidzahullah Ta’ala

 

Al-Ustadz Abu Muhammad Rizqy Hafidzahullahu Ta’ala