Senin, Agustus 19, 2019
Home > Artikel > “Hadist hadist tentang keutamaan surah Yasin Satupun tidak ada yang shohih”

“Hadist hadist tentang keutamaan surah Yasin Satupun tidak ada yang shohih”

“Hadist hadist tentang keutamaan surah Yasin Satupun tidak ada yang shohih”

Oleh Al Ustadz Abul Mundzir Dzul Akmal

Hadist pertama :

  1. عن معقل بن يسار رضي الله عنه: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: “قلب القرآن ((يس))، لا يقرؤها رجل يريد الله والدار الآخرة: إلا غفر الله له، اقرؤها على موتكم.”

Artinya : “Hati al Qur`aan adalah “Yaasin”, tidaklah membacanya seorang lelaki yang menginginkan Allah dan kehidupan akhirat; kecuali Allahu Ta`aala akan memberikan ampunan baginya, bacakanlah “Yaasin” itu atas orang yang meninggal diantara kalian.”

 

As Syaikh al Albaaniy rahimahullah telah berkata : “Hadist ini dho`iif (lemah), diriwayatkan oleh: Ahmad, Abu Daawud, an Nasaaiiy dan lafadz ini bagi an Nasaaiiy­1, dan Ibnu Maajah, dan al Haakim dan dishohihkan olehnya.


Hadist kedua.

6843- ( “البقرة” سنام القرآن وذروته، ونزل مع كل آية منها ثمانون ملكا، واستخرجت ((الله لا إله إلا هو الحي القيوم)) من تحت العرش فوصلت بها-أو : فوصلت ب-سورة ((البقرة))، و((يس)) قلب القرآن، لا يقرؤها رجل يريد الله تبارك وتعالى والدار الآخرة، إلا غفر له، واقرؤوها على موتكم).

 

Artinya : “al Baqarah adalah puncak al Quraan dan yang tertinggi, dan turun bersama setiap ayat dari al Baqarah tersebut delapan puluh orang Malaikat, dan dikeluarkan ayat al Kursi dari bawah al `Arsy maka disambungkan dengan surah al Baqarah, dan Yasin adalah hati daripada al Quraan, tidaklah membacanya seorang lelaki yang menginginkan Allah Tabaaraka wa Ta`aala dan kehidupan akhirat; kecuali diampuni dia, dan bacakanlah Yasin itu atas orang mati.”

As Syaikh al Albaaniy rahimahullahu Ta`aala berkata : Munkar. Dikeluarkan oleh Ahmad (5/26) : telah menghadistkan kepada kami `Aarim: telah menghadistkan kepada kami Mu`tamir dari bapaknya dari seorang lelaki dari bapaknya dari Ma`qil bin Yasaar marfuu`an.

Dan telah diriwayatkan juga oleh an Nasaaiiy di “`Amalul Yaum wal Lailah” (581/1075) dari jalan lain dari Mu`tamar; secara ringkas atas perkataan :

و ((يس)) …… إلخ.

Dan dikeluarkan oleh Abu Daawud dan Jamaa`ah bahagian terakhir darinya. Dan riwayat lain bagi Ahmad (5/27), dan an Nasaaiiy (1074), dari jalan Sulaimaan at Taimiy dari Abi `Utsmaan- bukan an Nahdiy- dari bapaknya dari Ma`qil bin Yasaar.

Berkata as Syaikh al Albaaniy rahimahullahu Ta`aala: “ini sanadnya dho`iif; dikarenakan tidak dikenalnya lelaki dan bapaknya dalam sanad ini, adapun perkataan al Haitsamiy di “al Majma`” (6/311): “telah meriwayatkan Ahmad, padanya ada seorang rawi tidak disebutkan namanya, sementara rawi rawi yang lainnya adalah rawi rawi shohih.”

Berkata as Syaikh al Albaaniy : “padanya ada kelalaian…., dan yang benar dikatakan : “dua orang rawi yang tidak disebutkan nama mereka.”

Padanya ada kecacatan selain itu; yaitu : goncangnya sanad hadist ini; lihat kembali di “al Irwaa” (3/150-151) kalau kamu ingin, dan padanya : bahwa ad Daaruquthniy berkata : “Hadist ini dho`iiful isnad, majhuulul matan, tidak satupun hadist shohih dalam hal ini.”

Oleh karenanya; tidak baik sebenarnya al Mundziriy mendiaminya di “at Targhiib” (2/222/1) dan menampilkannya dengan kata kata : “`An”!, demikian juga as Syaikh an Naajiy di “`Ujaalatuhu” (Q146/1), sekira kira disibukan bantahan terhadapnya; karena dia memuthlakkan penyandarannya terhadap an Nasaaiiy, sepantasnya bagi dia untuk mengikatkannya dengan “`Amalul Yaum wal Lailah.” (ad Dho`iifah 14/2/787-788 no.6843).

 

Hadist ketiga :

“إن لكل شيء قلبا، وقلب القرآن ((يس))، ومن قرأ ((يس)): كتب الله له بقراءتها قراءة القرآن عشر مرات.”

Artinya : “Sesungguhnya bagi segala sesuatu ada hati, dan hati al Qur`aan adalah “Yaasin”, dan barang siapa membaca “Yaasin”: Allah Tabaaraka wa Ta`aala menuliskan baginya dengan bacaannya itu seperti membaca al Qur`aan sepuluh kali.”

Ada tambahan riwayat :

“دون ((يس)).”

“Tanpa disebutkan “Yaasin.2

Berkata as Syaikh al Albaaniy rahimahullahu Ta`aala : Hadist ini Maudhuu` (palsu).

Berkata Abu `Iisaa (al Imam at Tirmidziy) : “Hadist ini hasan ghariib tidak kami ketahui kecuali hadist dari Humeiid bin `Abdurrahman, dan di Bashrah mereka tidak mengetahui dari hadist Qataadah kecuali dari jalan ini. Dan Haaruun Abu Muhammad seorang syaikh yang majhuul (tidak dikenal).

Berkata al Imam at Tirmidziy : telah menghadistkan kepada kami Abu Muusa Muhammad bin al Mutsanna; telah menghadistkan kepada kami Ahmad bin Sa`iid ad Daarimiy; telah menghadistkan kepada kami Qutaibah dari Humeid bin `Abdurrahman dengan hadist ini.

 

Diriwayat lain :

Hadist keempat.

6844- (إني فرضت على أمتي قراءة ((يس)) كل ليلة، فمن داوم على قراءتها كل ليلة ثم مات، مات شهيدا).

 

Artinya : “Sesungguhnya saya telah mewajibkan atas ummat saya membaca surah Yasin setiap malam, maka barang siapa yang selalu membacanya setiap malam, kemudian dia maninggal, meninggalnya dalam keadaan syahiid.”

Berkata  as Syaikh al Albaaniy : Hadist ini Maudhuu` (palsu).

Diriwayatkan oleh Abu as Syaikh di “as Tsawab”, dari jalannya as Syaikh as Syajriy di  “al Amaaliy” (1/118) berkata : telah menghadistkan pada kami Ibnu Abi `Aashim : telah menghadistkan pada kami `Umar bin Hafsh al Washaabiy : telah menghadistkan pada kami Sa`iid bin Muusaa : telah menghadistkan pada kami Rabaah bin Zaid dari Ma`mar dari az Zuhriy dari Anas marfuu`.

As Sayuuthiy menampilkan riwayat ini di “Dzeilul Ahaadiist al Maudhuu`ah” (hal.24) dari riwayat Abi as Syaikh, kemudian beliau berkata : “Sa`iid rawi yang dituduh”. Diakui oleh Ibnu `Iraaq di “Tanziihus Syarii`ah” (1/267).

Dan dari jalan al Washaabiy disebutkan bahagian yang kedua darinya- “barang siapa mengamalkannya terus menerus….”- at Thobbaraaniy di “al Mu`jamus Shoghiir” (hal.210-Hindiyah), dari jalannya al Khathiib di “at Taariikh) (3/245), dan berkata at Thobbaraaniy : “menyendiri dengannya Sa`iid.” Berkata  al Haitsamiy di “al Majma`” (7/97) : “diriwayatkan oleh at Thobbaraaniy di “as Shoghiir”, padanya ada Sa`iid bin Muusaa al Azdiy, dia pendusta.”

Baginya masih ada hadist hadist yang lain, maudhuu` (palsu) sangat jelas kepalsuannya, salah satunya di “as Sunnah” oleh Ibnu Abi `Aashim (1/305-306/696).

Telah lewat baginya hadist yang ketiga dengan no. 594. (ad Dho`iifah 14/2/789 no.6844).

 

Hadist kelima:

Dan pada bab ini juga dari jalan Abu Bakr as Shiddiiq, tidak shohih dari sisi sanadnya, isnadnya lemah.3

 

وعن جندب رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : “من قرأ ((يس)) في ليلة ابتغاء وجه الله: غفر له.”

 

Artinya : Dari Jundub radhiallahu `anhu berkata : berkata Rasulullahi Shollallahu `alaihi wa Sallam : “Barang siapa yang membaca “Yaasin” pada malam hari mencari Wajah Allah, Allah Tabaaraka wa Ta`aala mengampuni dosanya.”4

Berkata as Syaikh al Baaniy rahimahullahu `Ta`aala : Hadist ini dho`iif (lemah).

 


Hadist keenam :

 

169- (إن لكل شيء قلبا، وإن قلب القرآن (يس)، من قرأها: فكأنما قرآ القرآن عشر مرات).

 

Artinya : “Sesungguhnya setiap sesuatu ada hatinya, dan sesungguhnya hati al Quraan adalah ((Yaasin)), barang siapa yang membacanya; seolah olah dia telah membaca al Qur`aan sepuluh kali.”

 

Berkata as Syaikh al Albaaniy rahimahullahu Ta`aala : Hadist ini maudhuu` (palsu). Dikeluarkan oleh at Tirmidziy (4/46, ad Daarimiy (2/456 dari jalan Humeid bin `Abdirrahman dari al Hasan bin Shoolih dari Haarun Abi Muhammad dari Muqaatil bin Hibbaan dari Qataadah dari Anas marfuu`an. Berkata at Tirmidziy : “Hadist ini hasan ghariib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari jalan ini, sedang Haarun abu Muhammad majhuul (tidak dikenal), pada bab ini juga dari Abu Bakr as Shiddiiq, tidak shohih, sebab sanadnya lemah, dan pada bab ini juga dari Abi Hurairah radhiallahu `anhu.”

 

 

Berkata as Syaikh al Albaaniy : demikian terdapat pada kitab kami sunan at Tirmidziy; “Hasan ghariib”, dan dinuqil oleh al Mundziriy dalam “at Targhiib” (2/322), dan al Haafidz Ibnu Katsiir di “at Tafsiirnya” (3/563), al Haafidz di “at Tahdziib”, sesungguhnya hadist ini lemah, sangat jelas kelemahannya, bahkan hadist ini maudhuu` (palsu) dikarenakan Haarun, sungguh telah berkata al Haafidz ad Dzahabiy ketika menjelaskan biografinya setelah dinukil dari at Tirmidziy dimana beliau mengatakan dia rawi yang majhul :  “saya berkata : saya menuduhnya dengan apa yang telah diriwayatkan oleh al Qudhaa`iiy di “Syihaabihi”, kemudian dia menampilkan baginya hadits ini”.

 

Berkata as Syaikh al Albaaniy : dia pada no. (1035).

 

Di dalam “al `Ial” (2/55-56) oleh Ibnu Abi Haatim : “Saya bertanya kepada bapak saya tentang hadist ini? Beliau menjawab : Muqaatil ini, adalah Muqaatil bin Sulaimaan, saya melihat hadist ini di awal kitab yang dikarang oleh Muqaatil bin Sulaimaan, hadist ini hadist bathil tidak ada ashol baginya.”

 

Berkata  as Syaikh al Albaaniy : Demikian telah dipastikan Abu Haatim-beliau al Imam al Hujjah- bahwa Muqaatil yang disebutkan dalam sanad ini ialah ibnu Sulaimaan, namun demikian terdapat di “sunan” at Tirmidziy dan ad Daarimiy “Muqaatil bin Hayyaan”; sebagaimana yang saya lihat, moga moga saja kesalahan sebahagian dari para rawi. Disokong lagi bahwa hadist diriwayatkan oleh al Qadhaa`iiy; telah lewat, demikian juga Abul Fath al Azdiy dari jalan Humeid ar Ruaasiy dengan sanadnya yang telah lalu dari jalan Muqaatil dari Qataadah dengannya. Seperti ini dikatakan : “dari Muqaatil”, tidak dia sandarkan kepadanya, maka mengira sebahagian rawi bahwa dia adalah Ibnu Hayyaan, disandarkan kepadanya, diantaranya al Azdiy sendiri, bahwasanya disebutkan dari Waqii` bahwa beliau berkata tentang Muqaatil bin Hayyaan : “disandarkan padanya kedustaan”. Berkata ad Dzahabiy : “Demikian dikatakan oleh Abul Fath, saya mengira samar samar atasnya diantara Muqaatil bin Hayyaan dengan Muqaatil bin Sulaimaan, sedangkan Ibnu Hayyaan shoduuq, kuat dalam hadist, sedangkan yang dianggap dusta oleh Waqii` adalah Ibnu Sulaimaan. Kemudian berkata Abul Fath ….”

Berkata al Imam al Albaaniy rahimahullahu Ta`aala : “Maka dia tampilkan sanad hadist sebagaimana yang telah disebutkan sebelum ini, kemudian al Imam ad Dzahabiy mengomentari dengan perkataannya : Saya berkata : “yang benar dia adalah Muqaatil bin Sulaimaan.”

Berkata as Syaikh al Albaaniy : “Apabila dia benar ibnu Sulaimaan; sebagaimana yang telah dibenarkan oleh ad Dzahabiy, dan lebih dipertegas lagi oleh Abu Haatim, maka hadist ini adalah maudhu`u (palsu) secara muthlaq; karena- maksud saya- Ibnu Sulaimaan- kadzaab (sangat pendusta); sebagaimana yang telah dikatakan oleh Waqii` dan selainnya.

Kemudian ketahuilah bahwa hadist Abi Bakar yang diisyaratkan oleh at Tirmidziy lalu beliau lemahkan, saya belum menemukan matannya, sedangkan hadist Abi Hurairah radhiallahu `anhu, telah berkata al Haafidz Ibnu Katsiir : “Manzhuurun (dikeritik) fiihi (padanya)”. Kemudian dia berkata : “Berkata Abu Bakar al Bazzaar : telah menghadistkan kepada kami `Abdurrahman bin al Fadhl : telah menghadistkan kepada kami Zaid bin al Habbaab: telah menghadistkan kepada kami Humeid al Makkiy maulaa aali `Alqamah dari `Athoo bin Abi Rabaah dari Abi Hurairah marfuu`an dengannya, tanpa perkataan : “barang siapa yang membacanya….”, kemudian al Bazzaar berkata : Kami tidak mengetahui yang meriwayatkannya kecuali Zaid dari Humeid.”

Berkata as Syaikh al Albaaniy rahimahullahu Ta`aala : Dan Humeid ini majhuul (tidak dikenal); sebagaimana telah dikatakan oleh al Haafizh di “at Taqriib”, `Abdurrahmaan bin al Fadhl guru al Bazzaar saya tidak mengetahuinya, dan hadistnya di “Kasyful Astaar” dengan no.2304.

Dan hadist ini diantara hadist hadist yang telah menghiasi as Sayuuthiy kitabnya “al Jaami`us Shoghiir”, demikian juga as Shobuniy di “mukhtashornya” (3/154), dia menda`wakan bahwa dia tidak menyebutkan kecuali hadist yang shohih saja!, sekali kali tidak; ini hanya da`waan belaka![5]

 

 

Hadist ketujuh :

4636- (من قرأ ((يس)) يريد بها الله؛ غفر الله له، وأعطي من الأجر كأنما قرأ القرآن اثنتي عشرة مرة. وأيما مريض قرئ عنده سورة ((يس))؛ نزل عليه بعدد كل حرف عشرة أملاك، يقومون بين يديه صفوفا؛  فيصلون  ويستغفرون له، ويشهدون قبضه وغسله، ويتبعون جنازته ويصلون عليه، ويشهدون دفنه. وأيما مريض قرأ سورة (يس) وهو في سكرات الموت؛ لم يقبض ملك الموت روحه حتى يجيئه رضوان خازن الجنان بشربة من الجنة؛ فيشربها وهو على فراشه، فيموت وهو ريان، ولا يحتاج إلى حوض من حياض الأنبياء؛ حتى يدخل الجنة وهو ريان).

Artinya : “Barang siapa yang membaca surah “Yaasin” semata mata mengharapkan Allah; Allah akan mengampuninya, dan akan diberikan baginya ganjaran seolah olah dia membaca al Quraan dua belas kali. Siapapun yang sakit lalu dibacakan disampingnya “Yaasin”; akan turun atasnya sejumlah setiap huruf sepuluh orang Malaikat, akan berdiri dihadapannya bershof shof; bersalawat dan memintakan ampunan baginya, akan menyaksikan ketika rohnya dicabut dan dimandikan, akan mengikuti jenazahnya serta mensholatkannya, kemudian menyaksikan penguburannya. Dan siapapun sakit membaca ((Yaasin) sementara dia dalam keadaan sakaraatul maut; tidak akan dicabut rohnya oleh Malaikatul maut sampai datang kepadanya Malaikat Ridhwan pemegang kunci Surga membawa minuman dari Surga; lalu dia meminumnya sementara dia di atas ranjangnya, kemudian dia meninggal dalam keadaan lepas dahaga, dan tidak berhajat kepada telaga dari telaga telaga para Nabi; hingga dia masuk Jannah dalam keadaan tidak kehausan sama sekali.”

 

Berkata al Imam al Albaaniy rahimahullahu Ta`aala : Hadist ini maudhuu` (palsu).

Diriwayatkan oleh at Tsa`labiy (3/161/1) dari Ismaa`iil bin Ibrahim : telah menghadistkan kepada kami Yusuf bin `Athiiyah dari Haarun bin Katsiir dari Zaid bin Aslam dari bapaknya dari abi Umaamah dan Ubayy bin Ka`ab marfuuan.

Berkata as Syaikh al Albaaniy : ini palsu; gambaran pemalsuan dan dibuat dibuat jelas sekali atasnya; dan luput darinya Yusuf bin `Athiyyah-dia al Baahiliy al Kuufiy- sesungguhnya dia rawi yang dituduh; berkata `Amr bin `Ali al Falaasiy : “Dia ini (Yusuf bin `Athiyyah) lebih pendusta dari Yusuf bin `Athiyyah al Bashriy”. Dan berkata ad Daaruquthniy : “Kedua duanya rawi yang ditinggalkan.”Sedangkan rawi rawi diatasnya majhuul; sebagaimana yang telah lewat di no. (4632).

 

Dan semisalnya dalam kepalsuan; apa apa di dalam “`Ilalu ibni Abi Haatim” (2/67) : “saya menanyai bapak saya tentang hadist diriwayatkan oleh Suwaid Abu Haatim dari Sulaiman at Taimiy dari Abi `Utsmaan bahwa Abu Hurairah radhiallahu `anhu berkata : “Barang siapa yang membaca “Yaasin” satu kali; seolah olah dia telah membaca al Quraan sepuluh kali.”

Dan berkata Abu Sa`iid : “Barang siapa membaca “Yasin” satu kalil; seolah olah dia telah membaca al Quraan dua kali.

 

Berkata Abu Hurairah radhiallahu `anhu : “Sampaikan oleh kamu apa yang telah kamu dengar, dan saya akan menyampaikan dengan apa apa yang telah saya dengar?! Berkata Ubay : “Hadist ini munkar.”

 

Berkata as Syaikh al Albaaniy rahimahullahu Ta`aala : Bahkan hadist ini bathil nampak sekali kebathilannya; sekira kira bagaimana bisa diterima oleh `aqal satu bahagian tertentu dari yang utama lebih afdhol atau semisal dari yang utama itu; apalagi dari sepersepuluhnya?! Sesungguhnya seseorang yang membaca al Quraan dua kali; maka sungguh sungguh dia telah membaca “Yaasin” dua kali, bagaimana bisa membaca “Yaasin” satu kali lebih afdhol dari membaca al Quraan dua kali; bersamaan membaca al Quraan dua kali?!

 

Kecacatan hadist ini yang dimu`allaq oleh Ibnu Abi Haatim: pada Suweid-dia adalah Ibrahim al Hanaath al Bashriy-: berkata al Haafidz : “shoduuq (jujur), hapalannya jelek, baginya banyak kesalahan, sungguh telah telah jelek Ibnu Hibbaan berkata tentangnya.”

 

Berkata as Syaikh al Albaaniy rahimahullahu Ta`aala : “Dan ini apabila seseorang (belum selesai terjemahannya 10/1 hal.158),

 

Dan dari jalannya : telah meriwayatkan al Imam al Baihaqiy di “as Syu`abu”, sebagaimana didapatkan paedah dari perkataan al Manaawiy atasnya di “Faidhul Qadiir”. Kemudian saya dapati di “Syu`abul Iimaan” (2/381/2466).

 

Sedangkan bahagian yang pertama dari hadist Abu Hurairah; dikeluarkan oleh at Tirmidziy dari hadist Anas dan semisalnya, padanya ada rawi yang kadzaab (sangat pendusta); sebagaimana telah saya jelaskan di (169).

 

Kemudian saya dapati hadist Abu Hurairah sungguh telah diriwayatkan oleh Sa`iid bin Manshuur di “Sunannya” (2/283/75), dari jalannya al Baihaqiy di “as Syu`abu” (2/479/2459): telah menghadistkan kepada kami Ismaa`iil bin `Iyaasy dari Useid bin `Abdurrahmaan al Khats`amiy dari Hassaan bin `Athiyyah bahwa Rasulullahi Shollallahu `alaihi wa Sallam berkata : ……. Disebutkannya hadist tersebut.

Para perawinya terpecaya, akan tetapi hadist ini mursal atau mu`dhol; sesungguhnya Hassaan ini kebanyakan riwayatnya dari para at Taabi`iin. Dan diriwayatkan dengan lafazh :

 

Hadist kedelapan :

 

“من قرآ ((يس)) ابتغاء وجه الله؛ غفر له”؛

 

Artinya : “Barang siapa yang membaca surah “Yaasin” semata mata mengharapkan Wajah Allah; diampuni baginya dosanya.” Akan datang hadist ini di no. (6623).

 

 

Hadist kesembilan :

1246- (من دخل المقابر، فقرأ سورة “يس” خفف عنهم يومئذ، وكان له بعدد من فيها حسنات).

Artinya : “Barang siapa yang masuk keperkuburan, lalu dia membaca surat “Yaasin” diringankan daripada mereka pada hari kiamat, dan baginya kebajikan sejumlah mayat mayat yang ada dikubur itu.”

 

Berkata al Imam al Albaaniy rahimahullahu Ta`aala : Hadist ini Maudhuu`u (palsu). Dikeluarkan oleh at Tsa`labiy di “Tafsiirnya” (3/161/2) dari jalan Muhammad bin Ahmad ar Rayaahiy: telah menghadistkan kepada kami bapak saya; telah menghadistkan kepada kami Ayyuub bin Mudrik dari Abi `Ubaidah dari al Hasan dari Anas bin Maalik marfuu`an.

Beliau kembali berkata : sanad hadist ini gelap dan hancur yang bersambung dengan kecacatan kecacatan :

Pertama : Abu `Ubeidah. Berkata Ibnu Ma`iin : “Majhuul (tidak dikenal)”.

Kedua    : Ayuub bin Mudrik, yang disepakati atas sebagai rawi yang lemah dan ditinggalkan, bahkan berkata Ibnu Ma`iin “Kadzzaabun” (sangat banyak dustanya). Dalam riwayat lain : “Dia adalah rawi yang berdusta”. Dan berkata Ibnu Hibbaan : “Dia telah meriwayatkan dari Makhuul kitab yang di dalamnya riwayat riwayat yang palsu, dan tidak pernah dia lihat”!.

 

Berkata as Syaikh al Albaani : Inilah kesalahan hadist ini.

Ketiga : Ahmad ar Rayaahiy, dia Ahmad bin Yaziid bin Diinaar abul `Awwaam, berkata al Baihaqiy : “Majhuul”. Sebagaimana disebutkan dalam “al Lisaan”.

 

Adapun anaknya Muhammad, maka dia adalah rawi yang shoduuq, lihat biografinya di “Taarikh Baghdaad” (1/372).

Berkata al Haafizh as Sakhaawiy di “al Fataawaa al Hadiitsiyyah” (Q 19/1): “Telah diriwayatkan oleh Abu Bakr `Abdul `Aziiz shoohib al Khallaal dengan sanadnya dari Anas bin Maalik radhiallahu `anhu marfuu`an. Sebagaimana disebutkan dalam “Juzu Wushuulil Qiraa ah Ilal Maiyit” oleh as Syaikh Muhammad bin Ibraahim al Maqdisiy, dan sungguh telah disebutkan oleh al Qurthubiy, dan disandarkannya kepada at Thobaraaniy dari Anas, Cuma saya tidak menemukannya sampai detik ini. Dia terdapat di “as Syaafiy” oleh Abu Bakr `Abdul `Aziiz shohibu al Khallaal al Hanbaliy sebagaimana disandarkan kepadanya oleh al Maqdisiy, dan saya kira ini tidak shohih.”

 

Berkata al Imam al Albaaniy rahimahullahu Ta`aala : “Kalau dia betul betul meneliti sanadnya tentu dia akan memastikan hukum tentang tidak shohihnya, al Hamdulillahi yang telah memberikan kesempatan kepada kami sehingga kami sanggup membongkar kecacatan hadist ini. Maka milik Allah seluruh pujian dan karunia.

 

Dan sesungguhny telah diriwayatkan juga hadist ini dengan lafazh yang lain disebutkan dengan ringkas, namun hadist ini juga maudhuu`u (palsu), akan disebutkan dinomor (5219).

 

Hadist kesepuluh :

5219- (ما من ميت يموت، فيقرأ عنده سورة ((يس)) إلا هون الله عز وجل عليه).

 

Artinya : “Tidak ada seorangpun yang sedang sakaratul maut  lalu dibacakan disisinya surah “Yaasin” kecuali Allahu akan memudahkan atasnya”.

 

Berkata al Imam al Albaaniy rahimahullahu Ta`aala : “Hadist ini maudhuu`u (palsu). Dikeluarkan oleh ad Dailamiy di “Musnadil Firdaus” (4/17)- dari Abi Nu`eim mu`allaqan, dan ini terdapat di “Akhbaaru Ashbahaan” (1/188)-, dan ar Ruyaaniy di “Musnadnya” (1/13/1 al Muntaqaa darinya) dari `Abdul Majiid bin Abi Rawwaad dari Marwaan bin Saalim dari Shofwaan ibnu `Amr dari Syureih dari Abid Dardaa` dan Abi Dzarr rafa`ahu.

 

Berkata as Syaikh al Albaaniy : Dan hadist ini palsu; kesalahannya pada Marwaan ini; telah berkata as Syaikhaan (al Bukhaariy dan Muslim) dan Abu Haatim : “Munkarul Hadist”. Dan berkata Abu `Aruubah al Harraaniy : “pemalsu hadist”. Dan berkata as Saajiy : “pendusta pemalsu hadist”.

 

Berkata as Syaikh al Albaaniy rahimahullahu Ta`aala : Sungguh sungguh telah diselisihi pada sanadnya dan matannya; maka berkata al Imam Ahmad (5/105) : telah menghadistkan kepada kami al Mughiirah: telah menghadistkan kepada kami Shofwaan: telah menghadistkan kepada saya al Masyiikhah : “Bahwa mereka telah hadir disamping Ghudheiif bin al Haarist ketika bersangatan sakaratnya, lantas dia berkata : Adakah diantara kalian yang hafal “Yaasin?” berkata salah seorang kami : kemudian membacakan di depannya Shoolih bin Syureih as Sakuuniy, takala sampai pada ayat yang keempat puluh dia meninggal. Berkata Shofwaan :  adalah al Masyiikhah berkata mereka : apabila dibacakan dihadapan seseorang yang sedang sakarat akan diringankan baginya. Berkata Shofwaan : `Iisaa ibnul Mu`tamir membacakannya dihadapan Ibnu Ma`bad.”

 

Berkata al Imam al Albaaniy rahimahullahu Ta`aala : Shofwaan- dia adalah Ibnu `Amr as Saksakiy al Himshiy- kebanyakan riwayatnya dari at Taabi`iin, sedangkan perkataannya : “telah menghadistkan kepada saya al Masyiikhah” maksudnya : masyiikhah dari kalangan at Taabi`iin, maka oleh karena itu; al hadist makthu`u mauquuf sampai pada mereka saja, dirafa`kan dan dimaushulkan oleh pendusta Marwaan, ini kecacatan sanad hadist ini. Adapun perkataan al Haitsamiy (2/322) : “Ahmad telah meriwayatkan, dan padanya ada seorang rawi yang tidak disebutkan namanya.”!

 

Dan jelas sekali bahwa dia tidak melakukan sesuatu; karena yang dia maksud dengan “al Masyiikhah”, mereka sekelompok dari at Taabi`iin, kalau seandainya mereka sambungkan sanad hadist ini; maka adalah sanadnya disisi saya hasan, Allahu A`lam. 6

الحمد لله رب العالمين، وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

 

Footnote:

{1} Berkata as Syaikh al Albaaniy rahimahullahu Ta`aala: “Tidak terdapat disisi yang lainnya kecuali perintah untuk membacanya, kemudian disisi an Nasaaiiy di “al `Amal” dan lafadznya :

((ويس)) قلب…))

Isyaarah secara ringkas, secara sempurna riwayat ini terdapat di “al Musnad”, sedangkan dalam sanadnya terdapat para rawi yang majhuul dan juga sanadnya goncang, dan dikeluarkan juga di dalam : “ad Dho`iifah” no. (6843).

[3] Lihat : “Sunan at Tirmidziy (5/150).

[4] Berkata as Syaikh al Albaaniy rahimahullahu Ta`aala : hadist ini diriwayatkan oleh Maalik dan Ibnu as Sunniy dan Ibnu Hibban di “shohihnya”, (6/312 no.2574 pent.), at Thobaraaniy di “al Mu`jamus Shoghiir” (1/149) dan “al Ausath” (4/21 no.3509 pent).

Kemudian berkata as Syaikh al Albaaniy : padanya ada `an`anah al Hasan al Bashriy, sedangkan pengembaliannya kepada Ibnu as Sunniy salah atau tidak disengaja, sesungguhnya disisinya no.(668) dari jalan al Hasan dari Abi Hurairah radhiallahu `anhu! Hadist ini juga dikeluarkan oleh beliau di dalam “ad Dho`iifah” (14/293-296 no.6623); dan berkata beliau : diriwayatkan dari hadist Abi Hurairah dan Jundub bin `Abdullah dan `Abdullah bin Mas`uud dan Ma`qil bin Yasaar al Muzaniy radhiallahu `anhum.

  1. Adapun hadist Abi Hurairah : ini yang paling masyhuur; dikeluarkan oleh ad Daarimiy (2/457), at Thoyaalisiy (2/23 no.1970), Ibnu as Sunniy (217/268), al `Uqailiy di “ad Dhu`afaa” (1/203), Abu Ya`laa (11/93-94), Ibnu `Adiy (1/416 dan 2/299), at Thobaraaniy di “al Mu`jamus Shoghiir” (hal.82 Hindi), di “al Ausath” (4/304/3533), Abu Nu`eiim di “al Hilyah” (2/159) dan di “Akhbaaru Ashbahaan” (1/252), al Baihaqiy di “as Syu`abu” (2/480/2462-2464), al Khathiib di “at Taarikh” (3/253), Ibnul Jauziy di “al Maudhuu`aat” (1/247) dari berbagai jalan dari al Hasan dari Abi Hurairah marfuu`an. Dan berkata Abu Nu`eiim : “Hadist ini telah meriwayatkannya dari al Hasan segolongan dari kalangan at Taabi`iin diantara mereka Yuunus bin `Ubeid dan Muhammad bin Juhaadah.”

Berkata as Syaikh al Albaaniy : “Dan yang paling terkuat sanad diantara keduanya ialah yang kedua, sampai sampai as Sayuuthiy berkata di “al Lalaaliy” (1/235) : “sanad hadist ini atas syarat (as Shohih).”

Kemudian beliau mengatakan : “Sebenarnya memang demikian; kalaulah bukan al Hasan- dia adalah al Bashriy- yang dikenal dengan “tadliis”, dan diperselisihkan tentang mendengarnya dia dari Abu Hurairah radhiallahu `anhu, sebagaimana yang telah diceritakan oleh at Thobaraaniy setelah menampilkan hadist ini beliau berkata : “Sungguh dikatakan : sesungguhnya al Hasan tidak mendengar dari Abi Hurairah radhiallahu `anhu, dan berkata sebahagian ahli `Ilmu : bahwa sungguh sungguh dia telah mendengar darinya.”

Sedangkan yang telah ditetapkan oleh al Haafidz di dalam “at Tahdziib” bahwa dia telah mendengar darinya sebahagian; akan tetapi ini tidak ada mamfa`atnya bagi seorang rawi yang “mudallis” sampai dia betul betul menshorehkan bahwa dia telah mendengar yang tidak akan menimbulkan penafsiran yang lainnya lagi.”

Kata as Syaikh al Baaniy : “Betul; diriwayat Abu Ya`laa perkataannya : “Saya telah mendengar Aba Hurairah”; akan tetapi rawi yang meriwayatkan darinya (dari al Hasan) Hisyaam bin Ziyaad- dia : Abul Miqdaam al Madaniy; dia rawi “matruuk” (ditinggalkan)- sebagaimana yang telah dikatakan oleh an Nasaaiiy dan adz Dzahaabiy dan al `Atsqalaaniy-, yang jelas keadaannya tersembunyi bagi al Haafidz Ibnu Katsiir; maka beliau berkata di “at Tafsiir” (3/563) : “sanad hadist ini jaiyid (baik).”

  1. Adapun hadist Jundub bin `Abdillah : telah meriwayatkannya Muhammad bin Juhaadah dari al Hasan dari Jundub.”

Dikeluarkan oleh Ibnu Hibbaan (665-mawaarid).

`Illah (cacat)nya sama seperti yang telah dijelaskan di atas, Cuma ditambahkan padanya perselisihan pada Muhammad bin Juhaadah dalam sanadnya, kemudian pada al Hasan itu sendiri.

  1. Adapun hadist Ibnu Mas`uud radhiallahu `anhu : meriwayatkannya Abu Maryam dari `Amr bin Murrah dari al Haarits bin Suweid dari Ibnu Mas`uud.

Dikeluarkan oleh Abu Nu`eiim (4/130) dan berkata beliau : “Hadist ghariib (dho`iif/lemah), tidak meriwayatkannya dari `Amr kecuali Abu Maryam-dia adalah: `Abdul Ghaffaar bin al Qaasim-: kuufiyun dalam hadistnya liin (kelemahan).”

Berkata as Syaikh al Albaaniy : “Bahkan itu saja, lebih jelek dari itu; sungguh telah berkata tentangnya Ibnul Madiiniy dan Abu Daawud : “Dia pemalsu hadist.”

  1. Dan adapun hadist Ma`qil bin Yasaar : meriwayatkannya Muslim bin Ibraahim bin `Abdillah : telah menghadistkan kepada kami Abu `Umar ad Dhariir : telah menghadistkan kepada kami al Mu`tamar bin Sulaimaan dari bapaknya dari seorang lelaki dari Ma`qil.

Dikeluarkan oleh al Baihaqiy (2458).

Berkata as Syaikh al Albaaniy rahimahullahu Ta`aala : “Sanad hadist ini gelap; Muslim bin Ibraahim `Abdillah : saya tidak mengenalnya, dan lelaki yang disebutkan dalam sanad hadist ini : majhuul (tidak dikenal), tidak disebutkan namanya, dan saya kira dia adalah : (Abu `Utsmaan-bukan an Nahdiy); sesungguhnya telah meriwayatkan al Mu`tamar bin Sulaimaan dari bapaknya dari Ma`qil hadist yang lain tentang keutamaan ((Yaasin)), hadist ini telah saya keluarkan dalam kitab : “al Irwaa” (3/150-151) dan “al Misykaah” (1622), dan Abu `Utsmaan rawi yang tidak dikenal,- dia bukan an Nahdiy rawi yang terpecaya.”

Kesimpulan : Tidak terdapat pada jalan jalan hadist ini apa apa yang memungkinkan untuk diberikan padanya satu hal menguatkannya, sungguh telah diisyaratkan tentang demikian oleh al `Uqailiy dengan perkataannya setelah menampilkan hadist ini : “Dan riwayat pada matan seperti ini lemah”. Dan berkata ad Daaruquthniy : “Hadist ini sesungguhnya telah diriwayatkan secara marfuu` dan mauquuf, dan tidak satupun yang shohih”. Telah menuqilnya Ibnul Jauziy.

Sesungguhnya telah diriwayatkan hadist ini dengan lafazh lafazh yang lain pada sebahagiannya munkar yang bersangatan; bahkan sungguh bekas pemalsuan atasnya jelas sekali, dan telah terdahulu sebahagiannya dengan nomor : (169, 4634).

Peringatan : al Haafidz al Mundziriy telah menyandarkan hadist ini didua tempat di “at Targhiib” (2/222,257) kepada Ibnu as Sunniy dan Ibnu Hibbaan di “shohihnya” dari Jundub bin `Abdullah. Tidak ada sebenarnya disisi Ibnu as Sunniy kecuali hadist Abu Hurairah radhiallahu `anhu; seolah olah dia menggiringkan hadist Jundub kepadanya! Dan ini merupakan sikap bermudah mudah yang tidak disenangi padanya. Dan juga beliau menyandarkannya ditempat yang pertama kepada Maalik. Mudah mudahan saja ketegelinciran pena, atau tambahan pada sebahagian munuskrip; sesungguhnya saya tidak menemukannya di “al Muwattho`”- Inilah tujuan penyandaran secara muthlaq kepadanya- dengan mencari bantuan atas demikian itu dengan membuka daftar daftar pembahasan pada hari ini, apakah yang khusus atau yang lebih umum. (“Silsilatul Ahaadiist ad Dho`iifah wal Maudhuu`ah” 14/1/293-296 no.6623), karya al Imam al Albaaniy rahimahullahu Ta`aala.

[5] Lihat : “Silsilatul Ahaadiist ad Dho`iifah wal Maudhuu`ah”, karya al Imam al Albaaniy rahimahullahu Ta`aala, (1/212-214 no.169).

[6] Lihat “ad Dho`iifah” (11/1/363-364), oleh al Imam al Albaaniy rahimahullahu Tabaaraka wa Ta`aala.